Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

'Open Mind' dan Tak boleh Terkotak-kotak

Saat ini para aktivis mahasiswa Islam terkotak-kotak dan mayoritas cenderung fanatik terhadap organisasi atau gerakannya. Aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) misalnya, bangga berlebihan terhadap kelompoknya dan ‘hanya’ menjadikan Taqiyuddin an Nabhani sebagai rujukan utama pembinaannya. Begitu juga aktivis mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Indonesia yang sebagian besar menginduk pada Partai Keadilan Sejahtera. Mereka sudah merasa cukup bila sudah dibina dengan kitab-kitab dari Hasan al Banna atau tokoh Ikhwan lainnya.  Hal yang sama terjadi pada gerakan Salafi.  Gerakan-gerakan yang sangat ketat dalam berpedoman al Qur’an dan Sunnah dan cenderung ‘mengesampingkan’ ijtihad. Gerakan Salafi lebih banyak berfokus pada hal-hal bid’ah dan sunnah. Buku yang menjadi rujukan utamanya adalah Nashirudin al Albani. Sedangkan gerakan Salafi Haraki banyak berkutat pada solidaritas dunia Islam karena penjajahan fisik Amerika dan sekutunya. Buku yang menjadi pedoman utamanya adalah Sa...