Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Loss of Adab : Akar Permasalahan Umat

Dalam sebuah majelis ilmu, seorang peserta bertanya kepada pemateri. Pertanyaan sangat umum, sering dilontarkan peserta lain di majelis ilmu. Si peserta bertanya,”Ustadz mengapa kemajuan peradaban saat ini dikuasai oleh bangsa Barat (Eropa), padahal Islam dengan segala perangkat dan sejarahnya telah terbukti mampu memimpin peradaban.” Pemateri, Dr. Henri Salahudin sekaligus Direktur Eksekutif INSISTS menjawab dengan santai dan sedikit tersenyum. Dengan gaya khasnya, Beliau menjawab pertanyaan penanya dengan proporsional. Henri menyampaikan bahwa kemajuan bangsa Barat saat ini tidak boleh dinafikan dan harus disikapi dengan adil. Banyak hal-hal baik yang patut kita contoh dari kebiasaan masyarakat Eropa, sebaliknya ada hal lain yang harus kita tolak. Beliau menyampaikan bahwa orang Barat sangat komitmen memegang kesepakatan yang telah dibuat bersama dan tidak segan memberikan sanksi terhadap pelanggar. Kepatuhan tersebut menciptakan karakter baik dalam kehidupan bermasyarakat seper...

Sekolahisme, Linearisme, Ta'dib

Gambar
Pendidikan Islam menjadi bahasan menarik saya beberapa bulan ini. Setelah selesainya kegiatan klasikal Sekolah Pemikiran Islam, saya semakin tersadar ternyata banyak cabang ilmu Islam yang belum saya pelajari. Berawal dari keingintahuan tentang wacana Islamisasi Sains, akhirnya saya tertarik mendalami bahasan tentang pendidikan Islam. Jika berbicara Pendidikan Islam, ada beberapa tokoh yang bisa kita jadikan rujukan, salah satunya Dr. Adian Husaini. Banyak hal baru dan menarik, yang saya peroleh ketika mendengar paparan Beliau. Dari beberapa hal yang disampaikan, ada beberapa poin yang selalu Beliau ulang dan tegaskan. Ketua Prodi Doktoral Pendidikan Islam UIK Bogor ini, menyoroti dua pemahaman salah tentang pendidikan Islam yaitu paham sekohalisme dan linearisme. Sekolahisme telah mempersempit dan membuat keliru umat islam dalam memahami ilmu. Menurutnya, kewajiban mencari ilmu melekat sejak lahir hingga kita menemui ajal. Pendidikan Islam yang berjalan sekarang seolah diba...

Worldview of Islam (II)

Gambar
Saya meyakini bahwa salah satu fitnah terbesar abad ini adalah masifnya arus infomasi. Informasi mengalir begitu derasnya lewat sarana teknologi. Peristiwa yang terjadi di belahan negara lain dapat kita ketahui seketika dalam hitungan menit. Peristiwa yang sedang viral pun ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan dengan aneka sudut pandang. Masing-masing memberikan opini sesuai kapasitas keilmuan yang dimiliki. Tuntutan masyarakat akan informasi memang tak terelakkan. Mencegah masuknya informasi di era sekarang adalah hampir mustahil. Generasi yang tumbuh sekarang juga tidak seperti generasi beberapa tahun kemarin. Salah satu ciri Generasi Z adalah generasi yang kritis dan menuntut jawaban cepat atas permasalahan yang mereka hadapi. Problem mereka seolah terwadahi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pertanyaan mereka sedikit banyak terjawab dengan berbagai informasi yang berseliweran di media sosial. Semakin banyaknya portal berita terlebih indepth dalam u...

Islamisasi Sains

Gambar
Seorang dosen perguruan tinggi Islam berkata kepada muridnya, kalau ingin mempelajari sains masukkan agama dalam saku anda. Sepertinya agama dan ilmu pengetahuan terpisahkan oleh sekat tinggi. Jadi pantaslah, bila seorang muslim yang belajar sejarah Islam tidak menambah keimanannya. Begitu pula, ketika ia belajar ilmu alam kedekatannya dengan sang Pencipta juga tidak bertambah. Membangun perabadan Islam adalah PR besar umat Islam abad ini. Salah satu alternatif yang ditempuh adalah melakukan Islamisasi Ilmu pengetahuan. Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Dan tak mungkin, kita mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara lain melainkan dengan cara seperti yang dil...

Sang Tuan Rumah

Sekuel ‘Si Doel Anak Sekolahan’ kembali tayang di salah satu stasiun TV. Daripada menayangkan acara yang tak jelas kontennya, tayangan ini adalah salah satu alternatif baik di pagi hari. Rutinitas pagi kami sembari sarapan sungguh sangatlah sepele. Kalau tak menonton ‘Mama Dedeh’, ya nonton ‘Upin Ipin’ dilanjut ‘Pada Zaman Dahulu Kala’. Bagi Kami, ini adalah penyemangat sekaligus penyegaran sebelum memulai aktivitas. Alhamdulillah, kini ada altenatif lain yaitu ‘Si Doel Anak Sekolahan’. Dulu saya tak terlalu suka dengan sekuel SDAS, tapi setelah beberapa kali tayang, saya menemukan keunikan dan keasyikan tersendiri. SDAS adalah cermin kehidupan masyarakat Betawi yang terlestarikan. Digambarkan, mereka hidup di kampung dengan rumah dan tanah yang lapang. Masyarakat Betawi juga sangat agamis dan berbudaya. Sifat dan karakter mereka juga menarik, jujur dan apa adanya. Dialog antar mereka, sangat asyik dan lepas. SDAS juga memberikan pesan bermakna untuk masyarakat khususnya masyaraka...

Islam Paling Siap Memimpin

Gambar
Doktor Zakir Naik pernah menyampaikan dalam ceramahnya, bahwa berdasarkan riset, umat Islam adalah umat yang paling taat dengan agamanya. Fakta memang berbicara seperti itu. Al Quran dan Al Hadist adalah rujukannya. Selain itu, terdapat rujukan lain yaitu ijtihad ulama. Umat Islam adalah pemeluk yang bersemangat menjalankan perintah agamanya. Umat Islam pula lah yang paling konsisten dan tegas mengharamkan riba, perjudian, perzinahan, makan nabi, nikah sesama jenis dan berbagai larangan agama lainnya. Berbicara tentang ajaran suatu agama, pastilah mengacu pada kitab suci agama masing masing. Dalam Islam, terdapat pemeluk taat dan tetap ada pemeluk yang melakukan kemaksiatan. Terhadap pelaku kemaksiatan jangan salahkan Islam nya, tetapi salahkan pribadi yang tak mau taat dengan ajaran agamanya. Menghakimi Islam karena ulah pemeluknya adalah tidak adil. Islam mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai hal-hal krusial seperti memilih pemimpin sampai hal yang dianggap remeh teme...

Petualang Muslim

Gambar
Mendaki puncak gunung, berangkat dini hari, menembus dinginnya malam. Sampai di puncak, kita berteriak kencang pertanda suka cita, kibarkan bendera, dan berfoto ria. Setelahnya, kita bisa mendirikan tenda untuk bermalam beberapa hari. Di pagi harinya, seduhan minuman hangat bersanding panorama merah di senja pagi, duhai nikmatinya. Beberapa orang berdendang bersama dengan iringan gitar. Atau mungkin, kita bersepeda dari pagi hingga siang melewati medan terjal dan belum kita kenal. Sebagian lagi melakukan perjalanan panjang berhari-hari dengan bekal seadanya. Dengan nyali dan pengalaman, mereka melintasi berbagai wilayah. Orang biasa menyebutnya dengan backpacker . Dengan semuanya, apakah kita layak disebut petualang ( traveller ) sejati. Bagi kita yang mengaku petualang, sejauh apa visi perjalanan anda? Dialah Ibnu Battutah. Petualang sejati dari tanah Maroko. Selama 30 tahun melakukan travelling , dia telah melakukan penjelajahan sejauh 73.000 mil. Ibnu Battutah juga m...

Nativisasi : Politik Budaya Kolonial

Gambar
(www.javaloka/masjid demak) Nativisasi apa ya? Saya juga awalnya asing dengan istilah tersebut, tapi setelah mempelajari lebih dalam, ternyata ini masalah serius yang menimpa umat Islam khususnya di Indonesia. Menurut Beggy Rizkiyansah, Pegiat Sejarah Islam Indonesia sekaligus redaktur situs jejakislam. net, Nativisasi adalah sikap atau paham suatu masyarakat atau negara terhadap budayanya sendiri untuk menangkal pengaruh dan gagasan dari luar. Di masa kolonial, nativisasi digunakan sebagai politik budaya kaum penjajah untuk membendung pengaruh/gagasan dari luar, terutama pengaruh Islam. Mengapa Islam? Karena Islam tegas menolak praktek kolonialisasi dan tidak pernah mau berkompromi dengan penjajah. Tujuannya mereka sangat jelas yaitu untuk meneguhkan eksistensi penjajahannya di negara kita. Nativisasi dilakukan diberbagai daerah di Indonesia antara lain di tanah Batak, Sunda, Jawa, Minahasa, dan Bali. Prosesnya pun beragam bergantung kondisi sosial masyarakat daerah m...

Ya Allah Jagalah Beliau

Sudah menjadi kebiasaan saya untuk mengetahui profil seseorang lebih dalam. Entah itu tokoh agama, ekonomi, politik, atau tokoh lain dari berbagai bidang. Perkenalan awal memang tampak biasa. Saya mengenal Beliau sebagai ulama kelahiran Jakarta dan menamatkan studi sarjana di salah satu universitas ternama di Arab Saudia. Sebelum itu, Beliau menjalani pendidikan di Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur. Yang pasti keilmuan agamanya sangat mumpuni. Nama Beliau semakin dikenal ketika menjadi salah satu juri perlombaan Hafidz cilik di salah satu TV swasta. Para jamaah dan hafidz cilik memanggil Beliau dengan sebutan ‘Abi’. Beliau juga menginisiasi program religi di salah satu TV swasta, kalau tidak salah programnya bernama ‘Khazanah’, yang sampai saat ini masih tayang setiap pagi. Menurut saya, ini adalah salah satu acara religi yang sangat mengedukasi umat Islam, sesuai dengan judul programnya. Perkenalan Beliau semakin dekat ketika saya mengikuti kursus pra nikah, yang diselengg...