Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Salah Urus Perkara : Tak dihisab diperhatikan, Dihisab malah diabaikan

Istilah galau akan diri, masa depan, dan jodoh kiranya sudah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Pun rasa resah gelisah tentang akan dibawa kemana negeri ini turut tergambar dari pemberitaan media massa. Terkait fenomena tersebut, Ustadz Felix Siauw memberikan sedikit nasihat melalui kultwitnya yang dipublikasikan melalui akun resminya pada Facebook , Senin (20/10/2014). Menurut Ustadz Felix, dalam rukun keimanan Islam terdapat bahasan tentang Qadha dan Qadar, yakni meyakini apapun yang diberikan dan ditentukan Allah itu pasti baik adanya. Bentuk wajah, warna kulit, postur badan, kesemuanya adalah takdir Allah. Semua ha tersebut ditentukan Allah bagi kita dan harus diyakini bahwa itulah yang terbaik. Di lain sisi, selain menjelaskan takdir yang “dari sananya begitu”, Allah pun memberikan hal-hal yang bisa dipilih kepada manusia. Misalnya, beriman atau kafir, amanah atau khianat, semua itu pilihan bebas yang Allah karuniakan kepada manusia. Namun, usah k...

Pemimpin Kafir

Gambar
NAHDHATUL ULAMA (NU) dalam Muktamarnya ke-11, di Banjarmasin, 19 Rabi’ulawwal 1355 H (9 Juni 1936 M), membahas satu masalah bertajuk: “Apakah Negara Kita Indonesia Negara Islam? ” Ditanyakan, “Apakah nama negara kita menurut Syara’ agama Islam?” Jawabnya: “Sesungguhnya negara kita Indonesia dinamakan “Negara Islam” karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir, tetapi nama Negara Islam tetap selamanya.” Muktamar juga memutuskan, bahwa wilayah Betawi (Jakarta) adalah “dar-al-Islam”, begitu juga sebagian besar wilayah Jawa. Mengutip Kitab Bughyatul Mustarsyidin bab “Hudnah wal-Imamah” dijelaskan: “Kullu mahalli qadara muslimun saakinun bihi… fii zamanin minal azmaani yashiiru daara Islaamin tajrii ‘alaihi ahkaamuhu fii dzaalika-az-zamaani wa-maa ba’dahu wa-in-qatha’a imtinaa’ul-musliiina bil-istilaa’il-kuffaari ‘alaihim wa-man’ihim fii-dukhuulihi wa-ikhraajihim minhu wa-hiina’idzin fa-tastamiituhu daara harbin...

"Selamat Menjalankan Ibadah Puasa"

Gambar
“Selamat menjalankan ibadah puasa” itulah kata yang terpampang di pinggir-pinggir jalan, sudut gedung, dan lokasi strategis lainnya sebagai ucapan selamat datang kepada umat Islam yang akan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Coba amati dan renungi baik-baik kata tersebut, maka sepintas akan terlihat keganjilan. Dari ungkapan tersebut, ibadah ramadhan seolah hanya dilabeli ibadah puasa saja, padahal ramadhan adalah ibadah sebulan penuh selama 24 jam yang didalamnya diisi ibadah puasa, shalat tarawih, shalat fardhu, tilawah, dan ibadah-ibadah sunah lainnya. Sebagian umat Islam, beranggapan kalau ia telah berbuka selesai sudah ibadahnya. Maka bisa kita lihat, sebagian Saudara kita merasa telah merdeka dari hal-hal maksiat yang merusak pahala puasanya. Kalau di siang nya mereka puasa, maka tak usah kaget jika di malamnya sebagian saudara kita mengumbar omongannya, merokok, mengumpat, memfitnah, dan melakukan tindakan maksiat lainnya. Ibadah ramadhan seolah hanya di ...