'Open Mind' dan Tak boleh Terkotak-kotak



Saat ini para aktivis mahasiswa Islam terkotak-kotak dan mayoritas cenderung fanatik terhadap organisasi atau gerakannya. Aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) misalnya, bangga berlebihan terhadap kelompoknya dan ‘hanya’ menjadikan Taqiyuddin an Nabhani sebagai rujukan utama pembinaannya.

Begitu juga aktivis mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Indonesia yang sebagian besar menginduk pada Partai Keadilan Sejahtera. Mereka sudah merasa cukup bila sudah dibina dengan kitab-kitab dari Hasan al Banna atau tokoh Ikhwan lainnya.  Hal yang sama terjadi pada gerakan Salafi.  Gerakan-gerakan yang sangat ketat dalam berpedoman al Qur’an dan Sunnah dan cenderung ‘mengesampingkan’ ijtihad. Gerakan Salafi lebih banyak berfokus pada hal-hal bid’ah dan sunnah. Buku yang menjadi rujukan utamanya adalah Nashirudin al Albani. Sedangkan gerakan Salafi Haraki banyak berkutat pada solidaritas dunia Islam karena penjajahan fisik Amerika dan sekutunya. Buku yang menjadi pedoman utamanya adalah Sayid Qutb dan Abdullah Azzam.

Pergerakan mahasiswa di Muhammadiyah (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) atau Nahdhatul Ulama (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) kurang lebih sama. Di PMII cenderung menjadikan Gus Dur sebagai rujukan utama dan sebagian condong ke ‘Islam Liberal’. Gerakan KH Wachid Hasyim, tidak menjadi inspirasi utama mahasiswa-mahasiswa PMII. Situasi yang sama mirip dengan mahasiswa IMM. Gerakan KH Ahmad Dahlan belum menjadi teladan sentral dalam gerakan IMM, meski kini dicoba dengan membuat film dan memperbanyak buku tentangnya. Mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah cenderung terpecah-pecah sumber gerakannya dan sebagian ada yang terjangkit ‘liberal’.

Kini banyak ditemui aktivis mahasiswa Islam yang ‘kaku’ dalam pemikiran. Memang mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena yang membuat mereka demikian adalah para guru/ustadz yang mengajarinya. Para ustadz mereka ada yang hanya membolehkan membaca buku-bukunya atau buku-buku yang seide dengan ustadz itu (guru-gurunya). Bila ada buku lain yang bertentangan atau mengkritik pemikiran ustadz itu, Ustadz tersebut melarang muridnya untuk membacanya. Ada sebuah kejadian, seorang aktivis memarahi penjual buku yang  memajang buku Syekh Yusuf Qaradhawi di lapaknya. Dikatakan bahwa Qaradhawi itu hanya menggunakan akalnya saja dalam bukunya. “Kurang nyunnah” istilahnya atau “Ia kan bukan ahli Hadits”, begitu biasanya aktivis Salafi berucap. Penulis temui pula ada sebuah kelompok harakah yang melarang aktivis mahasiswanya mendengarkan ceramah beberapa Ustadz (ahli dalam pemikiran Islam), hanya karena para ustadz itu tidak masuk dalam kelompok harakah mereka.

Sehingga kini banyak ditemui mahasiswa yang jumud terhadap pemikiran atau gerakan-gerakan Islam. Mereka hanya tahu pemikiran dan gerakannya saja. Tidak memahami dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gerakan Islam lain.

Saatnyalah kini para mahasiswa dan khususnya ustadz-ustadnya mau mempelajari dengan serius pemikiran dari tokoh-tokoh gerakan Islam lain.  Anak-anak mahasiswa IMM atau PMII mau membaca seirus buku-buku karya Taqiyuddin an Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dan Hasan al Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin). Para aktivis Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin mau mengkaji seksama buku-buku Ahmad Dachlan, Wachid Hasyim,  Mohammad Natsir, Naquib Alatas atau Mohammad Roem. Begitu pula para aktivis Salafi mau mempelajari buku-buku Hamka, Raja Ali Haji, tokoh-tokoh Ikhwan atau Hizbut Tahrir.

Bila ini dilakukan insya Allah gerakan mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi ‘leader’ bagi arah Indonesia ke depan. Dan bukan mustahil aktivis mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi pemimpin bagi aktivis-aktivis mahasiswa Islam di seluruh dunia. Karena di belahan dunia lain pun terjadi kecenderungan gerakan mahaiswa yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh-tokoh gerakan Islam itu adalah mutiara-mutiara Islam. Sayang bila kita hanya mengambil satu mutiara saja. Sementara sebenarnya kita bisa mengambil banyak mutiara untuk kita manfaatkan secara optimal. Apalagi sekarang di era ‘kebebasan informasi’, era internet. Dimana kita bisa membaca buku-buku karya tokoh-tokoh itu hanya sekali klik dalam internet.  Jadi bagaimanapun ara ustadz membatasi muridnya untuk mengkaji pemikiran gerakan-gerakan lain, ibaratnya sebenarnya seperti melarang seorang konsumen untuk memilih minuman yang terbaik bagi dirinya, ketika ia berkunjung ke supermarket. Tentu agar konsumen bisa memilih tepat minuman itu, ia harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang manfaat vitamin, kegunaan air bagi tubuh dan lain-lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah pemikiran atau kemajuan Barat. Mengapa mereka begitu melesat maju sekarang ini (terlepas kemajuannya arahnya benar atau tidak)? Karena pemikir-pemikir Barat tidak fanatik buta terhadap pendapat pemikir-pemikir besar pendahulu mereka. Mereka meramu pemikiran Aristoteles, Plato, Aquinas, Hobbes, Adam Smith, Faucault dan lain-lain. Mereka tidak mati-matian mempertahankan pendapat salah satu pemikir mereka, bila ditemui pemikir Barat lainnya yang lebih baik. 

(Ditulis oleh : Nuim Hidayat, M.Si, peneliti INSIST sekaligus penulis buku berjudul “Agar Batu Bata Menjadi Rumah yang Indah” (Esai-Esai Sosial Politik), dikutip dari portal berita www.islampos.com)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains