Memposisikan Ibadah Puasa secara Bijak dan Adil
Hari ini sudah
memasuki tanggal 10 Sya’ban 1434 H artinya sekitar tiga pekan lagi kita sudah
memasuki bulan penuh berkah. Seperti kita ketahui bersama, Puasa di bulan
Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang memiliki makna sangat penting dan
setiap muslim yang telah memenuhi syarat wajib melaksanakannya.
Puasa Ramadhan
adalah rukum keempat dalam Islam.
Firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 183)
Firman Allah SWT :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah : 183)
Sabda Nabi
Muhammad SAW :
Islam didirikan
di atas lima sendi yaitu Syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan
Rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan dan pergi haji
ke Baitul Haram (Hadits Muttafaq’Alaih)
Sering kita lihat fenomena di masyarakat bagaimana mereka mempersepsikan Ibadah Puasa. Masyarakat Indonesia beberapa puluh tahun kemarin masih begitu antusias dalam mempersiapkan dan menyambutkan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. Yang kita rasakan akhir-akhir ini malah sebaliknya. Jika disebutkan kata “Puasa” mungkin yang terbersit dipikiran kita antara lain : “Ah berat banget menjalani puasa sebulan penuh”, bagaimana mempersiapkan menu buka dan sahur, mempersiapkan bekal untuk lebaran di kampung halaman dan lain sebagaimananya. Padahal kalau dimaknai dengan bijak, puasa di bulan ramadhan adalah serangkaian ibadah yang tidak hanya berpusat pada ibadah puasa saja, tetapi juga ibadah-ibadah lain yang tidak kalah pentingnya dan tetap harus dilaksanakan. Di bulan tersebut Allah SWT memberikan kabar gembira dan keistimewaan bagi kita yang sungguh-sungguh menjalankan amalan yang fardhu dan sunah-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.”(HR. Bukhari)
Diriwayatkan
dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda :
“Setiap amal
dilakukan anak Adam adalah untuknya dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali
lipatnya bahkan sampai tujuh ratu kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali
puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. Ia telah meninggalkan
syahwat, makan dan minumnya karena-Ku. Orang yang berpuasa mendapatkan dua
kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh bau mulutnya orang berpuasa
lebih harum daripada aroma kesturi.”
Kalau kita mau jujur, kadang sebagian dari kita kurang serius dalam mempersiapkan dan menyambut ibadah puasa di bulan ramadhan. Coba kita bandingkan bagaimana kita mempersiapkan amalan lain seperti Ibadah Qurban atau Haji ke Baitullah. Kita ambil contoh misal ibadah Haji. Bisa kita lihat bagaimana Saudara-Saudara kita mempersiapkan dengan serius dan rinci terkait ibadah yang mereka lakukan. Tidak seperti ibadah puasa, yang persiapannya terkesan serba mendadak, ibadah Haji mereka persiapkan jauh-jauh hari sebelum ibadah dilaksanakan. Kita lihat bagaimana mereka mempersiapkan ibadah tersebut beberapa tahun sebelum mereka berangkat. Manasik haji pun dengan serius mereka jalani bahkan sampai-sampai imunisasi mereka lakukan demi menjaga jasadiyah selama di Baitullah. Beberapa minggu sebelum pelaksanaan ibadah haji mereka sudah berangkat ke tempat tujuan, padahal pelaksanaan haji hanya berlangsung empat sampai lima hari.
Alangkah baiknya jika apa dipersiapkan dalam melaksanakan ibadah haji juga kita tiru dalam mempersiapkan ibadah puasa di bulan ramadhan. Para ulama memberikan nasehat, setidaknya ada empat hal harus dipersiapkan dalam menghadapi ibadah puasa di bulan ramadhan. Walaupun perihal ini sudah sering diangkat dalam tulisan, tidak ada salahnya penulis menyampaikan kembali untuk sama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan.
Pertama, Persiapan Ruhiyah. Kita kondisikan ruh dan mental kita siap untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan hati senang dan bersemangat. Bagi setiap muslim bulan ramadhan adalah bulan yang dinanti-nanti karena didalamnya Allah SWT memberikan keutamaan dibanding bulan-bulan yang lain. Kita persepsikan bahwa bulan ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa yang Allah SWT berikan untuk umat islam, sebagaimana banyak dalil menyebutkannya.
Kedua, persiapan jasadiyah. Bagaimanapun puasa sebulan penuh dengan aktivitas yang padat menuntut kita untuk memiliki fisik yang sehat dan prima. Terkait hal tersebut, Islam telah memberikan syariat yang indah bagaimana cara kita untuk mempersiapkan fisik kita sebelum memasuki bulan ramadhan.
Dalam riwayat
Abu Daud (dikatakan), "Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam tidak
pernah berpuasa sebulan penuh dalam setahun kecuali pada bulan Sya’ban
dilanjutkan ke Ramadhan." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Abu
Daud, no. 2048).
Itulah pelajaran
berharga dari Rasulullah SAW bagaimana langkah kita untuk mempersiapkan jasadiyah
sebelum memasuki bulan Ramadhan.
Ketiga, Persiapan Fikriyah (Fiqih Puasa). Dalam Islam syarat diterima amal ada dua yaitu Ikhlas hanya karena Allah SWT dan beribadah sesuai tuntunan Al-Quran dan Al-Hadits. Agar ibadah kita diterima, menjadi kewajiban kita untuk mempelajari ilmu terkait amalan-amalan di bulan Ramadhan. Bagaimanapun amal tanpa ilmu akan sia-sia dan ilmu tanpa amal akan sia-sia ibarat pohon tanpa buah.
Keempat, Persiapan Materi. Seperti kita ketahui bersama materi atau harta dalam Islam memegang peranan yang sangat penting. Banyak amalan atau ibadah dalam Islam yang terkait dengan harta misal : Haji, Zakat, Infaq, Sodaqoh dll. Jika kita hubungkan dengan ibadah puasa, hal tersebut sangatlah berkaitan. Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan.
Hal ini
diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di
bulan Ramadhan saat beliau
bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan
kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang
berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)
Begitulah langkah-langkah kita untuk menyambut bulan ramadhan yang penuh keistimewaan. Jangan sampai kita merasa terbebani dengan datangnya bulan Ramadhan. Kita siapkan diri kita seoptimalkan mungkin agar ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Kita berdoa kepada Allah SWT agar menyampaikan umur kita di bulan Ramadhan dan dapat memanfaatkan setiap detik di bulan ramadhan untuk beribadah guna mencapai derajat taqwa.
Komentar
Posting Komentar