Islamisasi Sains
Seorang dosen perguruan tinggi Islam berkata kepada muridnya, kalau
ingin mempelajari sains masukkan agama dalam saku anda. Sepertinya agama dan
ilmu pengetahuan terpisahkan oleh sekat tinggi. Jadi pantaslah, bila seorang
muslim yang belajar sejarah Islam tidak menambah keimanannya. Begitu pula,
ketika ia belajar ilmu alam kedekatannya dengan sang Pencipta juga tidak
bertambah.
Membangun perabadan Islam adalah PR besar umat Islam abad ini. Salah
satu alternatif yang ditempuh adalah melakukan Islamisasi Ilmu pengetahuan.
Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibnu Khaldun adalah berkembangnya ilmu
pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic,
kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan
dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang
terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Dan tak mungkin,
kita mengembangkan ilmu pengetahuan dengan cara lain melainkan dengan cara
seperti yang dilakukan ulama pendahulu kita.
Menurut Hamid Fahmy Zarkasi, umat Islam khususnya Indonesia memiliki
problem ilmu pengetahuan pada lembaga pendidikan Islam yaitu pesantren,
madrasah, dan perguruan tinggi Islam. Ia mencontohkan pada pesantren modern,
yang merupakan gabungan ilmu fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah dan berhasil memberikan wawasan yang lebih
luas dibanding pesantren tradisional, namun sesungguhnya gabungan itu bukan
merupakan hasil integrasi ‘ulum al-naqliyyah dan ‘ulum al-‘aqilyyah yang didesain secara konseptual. Mata
pelajaran Fisika misalnya masih belum dikaitkan dengan mata pelajaran
Usuluddin, mata pelajaran Sejarah Dunia tidak mengandung Sejarah Islam atau
peranan ummat Islam dalam sejarah dunia dan sebagainya. Jadi kurikulum
pesantren modern bukan merupakan hasil dari konsep ilmu yang integral, tapi
lebih merupakan kajian serempak ilmu fardhu ‘ayn dan fardhu kifayah. Jadi, masih terbuka kemungkinan akan
adanya pandangan dikotomis para santrinya
Melihat fakta tersebut, beberapa ulama yang fokus menggeluti bidang
pemikiran dan perabadan Islam khususnya di Indonesia melakukan sebuah upaya Islamisasi
sains. Proses dilakukan secara kelembagaan maupun bersifat personal. Peneliti
INSISTS Budi Handrianto dalam disertasinya, menyampaikan bahwa terdapat lima
pendekatan utama dalam Islamisasi sains barat modern. Pendekatan tersebut
memudahkan kita dalam memahami bentuk dan upaya apa saja yang dilakukan dalam proses
itu.
Pertama adalah proses instrumentalistik. Mereka berpandangan bahwa sains terutama
teknologi hanya sekadar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari
sains itu sendiri. Konsep Islamisasi sains ini sebenarnya tidak termasuk konsep
Sslamisasi sebagaimana Budi Handrianto jelaskan dengan syarat-syaratnya. Dalam
pendekatan instrumentalistik, konsep ilmu itu tidak bebas nilai tidak berjalan.
Maka pantas kita mendapati seorang Muslim yang menguasai sains Barat, namun ia
semakin jauh dari agamanya dan kontribusi terhadap umat dipertanyakan.
Kedua adalah proses justifikasi. Proses ini paling menarik bagi
sebagian ilmuwan dan kalangan awam. Maksud Justifikasi adalah penemuan ilmiah
modern diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat-ayat Al Quran dan Al
Hadits. Salah satu penganut pendekatan ini adalah Harun Yahya sebagaimana
sering kita baca buku-bukunya dan tonton karyanya. Namun pendekatan ini
mendapat kritikan dari Zainudiin Sardar, karena Al Quran tidak membutuhkan
legitimasi dan validitas seperti itu karena Al Quran adalah abadi bagi kaum
muslimin.
Ketiga adalah sakralisasi. Artinya sains modern yang bersifat sekuler
dan jauh dari nilai spiritualitas harus diarahkan menuju sains yang mempunyai
nilai sakral. Ide ini dikembangkan oleh Seyyed Hossein Nasr dan dilanjutkan
oleh muridnya Osman Bakar. Ada yang mengatakan sakralisasi bukanlah Islamisasi,
karena yang diadopsi bukan nilai islam saja tetapi juga agama lain yang
memiliki nilai spiritualitas.
Keempat adalah integrasi, yaitu mengintegrasikan sains Barat dengan
ilmu-ilmu Islam. Ide ini digaungkan oleh Ismail R. Al Faruqi. Menurutnya, akar
dari kemunduran umat Islam dalam berbagai dimensi karena adanya dualisme sistem
pendidikan. Sistem itu harus dibenani dan dualisme sistem pendidikan harus
dihapuskan dan disatukan dengan jiwa islam dan berfungsi sebagai bagian yang
integral dari paradigmanya. Konsep Al Faruqi inilah yang sekarang banyak
dikembangkan para ilmuwan, namun pengembangan Islamisasi yang berkaitan dengan
ilmu alam masih terbatas.
Yang terakhir adalah paradgima.
Menurut Budi, inilah konsep Islamisasi sains yang paling mendasar dan
menyentuh akar permasalahan sains. Ide Islamisasi sains ini disampaikan pertama
kali secara sistematis oleh Syedd Naquib Al Attas. Bahkan secara khusus ia
menyebut permasalahan Islamisasi adalah permasalahan mendasar yang bersifat
epistomologis. Ide Islamisasi sains yang dimulai dengan membongkar sumber
kerusakan ilmu. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi kaum muslimin
adalah ilmu pengetahuan moden yang tidak netral telah merasuk ke dalam
praduga-praduga agama, budaya, dan filosofis yang sebenarnya berasal dari
refleksi kesadaran dan pengalaman manusia Barat.
Al Attas kemudian mengkritik sains Barat saat ini yang menurutnya
mengalami pembaratan sehingga sains modern bukan dibangun diatas wahyu atau
kepercayaan agama tetapi dibangun di atas tradisi budaya yang diperkuat dengan
spekulasi filosofis yang terkait kehidupan sekuler yang memusatkan manusia
sebagai makhluk rasional. Akibatnya, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai etika
yang diatur manusia berubah terus-menerus. Oleh karena itu, Al Attas memberikan
pengertian bahwa Islamisasi sains adalah pembebasan manusia dari tradisi magis,
mitologis, animistis, kultur nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari
belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan Bahasa.
Sekelumit tentang Islamisasi sains yang penulis pahami, semoga menjadi
khazanah bagi upaya terwujudnya peradaban Islam.

Komentar
Posting Komentar