Islamic Worldview



“Kalau saya hidup berislam, saya ragu akan hidup sukses”.
“Kalau saya hidup berIslam, saya akan dianggap orang kolot dan ketinggalan zaman”. Itulah sebagian pemikiran yang mungkin pernah terlintas di benak kita. 

Fenomena tersebut terjadi saat ini dan tengah menjangkiti pemikiran sebagian dari umat Islam. Mereka merasa bahwa dengan hidup berislam banyak hal di dunia ini yang tak bisa dia wujudkan. Banyak aspek kehidupan yang akan terganggu karena dia hidup secara Islam. Sebagian dari kita khawatir dengan berislam, jenjang karirnya akan menjadi terganggu. Sebagian lagi berfikir, kalau dia hidup berislam maka pendidikan atau sekolah akan tertinggal dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Yang lain berprasangka, jika dia hidup berislam maka akan rusaklah pergaulan karena dipikirnya banyak aturan yang mengekang.

Sebagian lagi ada yang tetap berpegang pada ajaran Islam dalam aktivitasnya, tapi terkesan masih terkotak-kotakan. Sehingga seolah mereka mengambil ajaran Islam jika terasa ada keuntungan dan meninggalkan sebagian yang lain jika terasa ada kerugian . Jadilah mereka umat Islam abangan dengan background pemikiran kebarat-baratan.

Misal dari sisi ekonomi, kita mengaku Islam, tapi ajaran kapitalisme dan liberalisme barat yang kita jadikan pegangan. Jadilah kita orang Islam yang fanatik meminjam uang di bank konvensial, padahal jelas itu riba. Sebagian lagi sukanya memonopoli dan curang dalam berdagang.

Dari segi pendidikan, kita mengaku orang Islam, tetapi masih juga kita jadikan tokoh dan ilmuwan barat sebagai pijakan. Di bidang filsafat, kita fanatik terhadap tokoh-tokoh seperti Thomas Hobbes, Benedict Spinoza, John Locke, JJ Rousseau, David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Bertrand Russel, Emilio Betti, Gadamer, Jurgen Habermas, Imanuel Kant, Karl Marx, dan lainnya. (Adnin Armas MA, http://insistnet.com/ketika-tuhan-disingkirkan/)

Padahal pemikiran Kant telah melahirkan paham atheisme yang diusung oleh Ludwig Feurbach dan Karl Marx. Yang lebih parah, Marx pernah berpendapat bahwa agama adalah candu. Agama adalah faktor sekunder, faktor primernya adalah ekonomi (Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, 2001, hal 71-76).

Bidang psikologi digemakan dan dipelopori oleh Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya. Lucunya, psikologi modern, justru menjauhkan ilmu itu dari objek kajian utamanya, yaitu “jiwa” manusia itu sendiri.
Dalam bidang sosiologi, positivisme August Comte berhasil menggusur peran agama. Di bidang politik,, Machiavelli mneggulirkan politik tanpa moral. Bahwa politik adalah sekedar mekanisme untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan.

Di saat kita sibuk mengkaji dan mempelajari teori-teori barat, kita malah dilupakan untuk mengkaji Al-Quran dan Al-Hadits. Padahal keduanya adalah sumber dari segala disiplin ilmu, seandainya kita mau sungguh-sungguh mengkaji dan mentadaburinya. Ulama-ulama salaf juga tak kalah hebatnya memberikan cakrawala keilmuan kepada kita. Sebaliknya malah kita abai terhadap tokoh-tokoh Islam seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Imam Al Ghazali, Ibnu Khaldun, dan lainnya. Padahal dari merekalah terbangun konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan termasuk di dunia barat saat ini. 

Mengapa hal tersebut bisa terjadi ? Padahal Islam telah memberikan bukti nyata kepada kita. Sejak risalah Islam di bawa Rasulullah SAW, kemudian diikuti dengan era kekhalifan, dan dilanjutkan dengan sistem kedinastian, Islam telah mengukir kegemilangan dan kesuksesan di segala aspek kehidupannya. Kejayaan Islam tercatat dalam sejarah berlangsung selama ribuan tahun, yang sampai saat ini belum ada satupun sistem/rezim yang dapat menandinginya. Apakah hal tersebut belum menjadi bukti dan pelajaran yang nyata bagi kita? 

Hanya karena kesuksesan barat beberapa akhir abad ini, kita telah dibutakan dan dijauhkan dari Islam.  Kita seolah lupa, bahwa kita mempunyai sistem dan pijakan yang lebih dasyat dari yang dimiliki kaum barat saat ini. Sebagai umat Islam seharusnya kita bangga akan identitas keislaman kita, bukan sebaliknya malah minder dan apriori terhadap ajaran Islam.

Saatnya kita ubah pemikiran dan pemahaman kita tentang Islam. Yang dibutuhkan saat ini adalah kita  menjadi umat Islam yang benar-benar mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh bukan terkotak-kotakan. Untuk itu dibutuhkan pandangan dan pemikiran yang utuh terkait ajaran Islam. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) mengistilahkan pandangan tersebut sebagai Islamic Worldview.

Apa itu Islam Worldview ? 

Bagi Naquib al-Attas worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam lil-wujud). (Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, http://hamidfahmy.com/pandangan-hidup-islam-islamic-worldview/)
Sayyid Qutb mengartikan al-tasawwur al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu. 

Sedangkan menurut al-Mauwdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat (worldview) adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh.

Marilah kita ubah cara pandang dan pemikiran kita terhadap ajaran Islam. Jadikan Islam sebagai landasan dalam berbagai di segala aspek kehidupan. Yakinlah dengan hidup berislam kita akan sukses dunia dan akherat. Mari kita mulai bersama dan aplikasikan saat ini juga. Kalaupun nanti kita gagal, berarti yang salah bukan sistem Islamnya, tetapi kitalah yang salah memahami dan mengaplikasikannya.

“…. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS Ath-Thallaq : 2-3)

Wallahu a’lam bissawab.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains