"Selamat Menjalankan Ibadah Puasa"
“Selamat menjalankan ibadah puasa” itulah kata yang terpampang di pinggir-pinggir jalan,
sudut gedung, dan lokasi strategis lainnya sebagai ucapan selamat datang kepada
umat Islam yang akan menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Coba amati
dan renungi baik-baik kata tersebut, maka sepintas akan terlihat keganjilan.
Dari ungkapan tersebut, ibadah ramadhan seolah hanya dilabeli ibadah puasa
saja, padahal ramadhan adalah ibadah sebulan penuh selama 24 jam yang didalamnya
diisi ibadah puasa, shalat tarawih, shalat fardhu, tilawah, dan ibadah-ibadah
sunah lainnya.
Sebagian umat Islam, beranggapan kalau ia telah berbuka selesai sudah
ibadahnya. Maka bisa kita lihat, sebagian Saudara kita merasa telah merdeka
dari hal-hal maksiat yang merusak pahala puasanya. Kalau di siang nya mereka
puasa, maka tak usah kaget jika di malamnya sebagian saudara kita mengumbar
omongannya, merokok, mengumpat, memfitnah, dan melakukan tindakan maksiat
lainnya. Ibadah ramadhan seolah hanya di siang hari nya, sedang malamnya mereka
bebas melakukan apa saja semaunya. Padahal itu adalah pemikiran yang salah
kaprah. Pantaslah Rasulullah berkata dalam hadits shahihnya bahwa Allah SWT
akan mengampuni hamba-Nya yang bersungguh-sungguh melaksanakan puasa di siang
hari dan melakukan qiyamullail di malamnya. Redaksi hadits yang hampir mirip
hanya berbeda sedikit. Dulu saya bertanya dalam hati, kenapa kok hadits nya
mirip sekali ya, memang tidak ada redaksi lainnya. Alhamdulillah, sekarang baru
sadar bahwa hikmah dan pelajaran dari kedua hadist tersebut sangatlah besar, melihat
realitas masyarakat dalam menjalankan ibadah ramadhan baik di siang ataupun
malam harinya.
Rasulullah SAW berkata, ”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap
pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR.
Bukhari dan Muslim).
Dalam redaksi hadits lain Rasulullah berkata, “Barangsiapa yg melakukan qiyamullail
dengan penuh keimanan & mengharap pahala, maka akan diampuni dari
dosanya yg telah berlalu.” (HR. Nasai No.2162)
Lain lagi dengan ibadah sahur. Ada
paradigma yang salah di sebagian saudara muslim kita bagaimana mereka memaknai
ibadah Sahur. Yang terlintas di benak kita, sahur adalah makan di sepertiga
malam yang disunahkan dalam menjalankan ibadah puasa. Sebagian kita, kadang makan sahur
saat fajar masih lama sekitar pukul 02.00 s/d 03.00. Setelahnya mereka
kekenyangan dan terlelap tidur sehingga ibadah shalat subuhnya tertinggal.
Padahal kata “sahur” dalam bahasa arab berarti
akhir malam atau waktu menjelang subuh. Oleh karena Rasulullah
menganjurkan kita mengakhirkan waktu sahur kita.
Waktu yang utama untuk makan sahur
adalah dengan mengakhirkan waktunya hingga mendekati terbit fajar. Dan
mengakhirkan waktu sahur ini merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sebagaimana hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Kami makan sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
kemudian (setelah makan sahur) kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku
(Anas bin Malik) berkata: ‘Berapa perkiraan waktu antara keduanya (antara makan
sahur dengan shalat fajar)?’ Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu
berkata: ‘50 ayat’.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan
sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Apa sesungguhnya makna keberkahan di
waktu sahur? Keberkahan adalah kemanfaatan yang bertambah. Jadi sangatlah salah
kalau kita memaknai sahur sekadar makan di sepertiga malam untuk melaksanakan
ibadah puasa. Keberkahan itu adalah waktu istimewa yang dapat kita isi dengan
qiyamullail, tilawah, berdoa, dan ibadah lainnya. Di waktu sepertiga malam itu,
Allah SWT bersama malaikat-Nya turun ke langit bumi untuk mengabulkan semua
hajat dan doanya hamba-Nya. Jadi sangatlah rugi kalau kita memaknai keberkahan
sahur, hanya cukup dengan makan disepertiga malam tanpa tambahan ibadah
lainnya.
Wallahu a’lam bis showab

Komentar
Posting Komentar