Mulutmu Harimaumu
Ada salah seorang rekan saya
sekantor, sebut saja namanya si Fulan (bukan
nama sebenarnya). Orangnya sangat periang, humoris, dan pandai bergaul.
Setiap bertemu orang lain dan berpapasan diajaknya ngobrol, dan seketika
suasana menjadi cair oleh obrolan mereka berdua. Karena sifatnya tersebut, si
Fulan mempunyai teman yang banyak dan semua kalangan ia rangkul. Dalam hati
berkata, “Hebat ya si Fulan, orangnya
banyak bicara dan temannya juga banyak.” Kadang terpikir enak ya punya
sifat seperti dia. Jujur, saya orangnya agak selektif memilih teman dan tidak
mudah akrab jika bertemu orang yang baru. Beda dengan si Fulan, apapun
karakternya, dengan cara dia berbicara, dia akan mampu memikat orang lain.
Suatu pagi yang tak terduga sebelum
rutinitas kerja dimulai, salah seorang cleaning
service sebut saja Pak Bambang (bukan
nama sebenarnya) curhat kepada saya. Dia tiba-tiba menangis di pagi itu dan
bercerita kepada saya terkait kejadian tersebut. Pikir saya apa yang terjadi
kepada Beliau, karena beberapa hari sebelumnya tak terlihat ada masalah dan
perasaan sedih di raut mukanya. Kemudian beliau bercerita, bahwa dia dimarahi
si Fulan karena sebab yang tidak jelas. Si Fulan pagi itu sangat marah kepada
Pak Bambang. Pak Bambang sendiri bingung kenapa dia dimarahi. Pak Bambang
bercerita bahwa dia sakit hati dengan perlakuan Si Fulan yang memarahi dengan
serta merta tanpa alasan yang jelas.
Sambil menangis, saya meminta Pak
Bambang untuk bersabar dan jangan sakit hati terhadap perlakuan Si Fulan,
karena mungkin terjadi kesalahpahaman atau kurang komunikasi saja antara mereka
berdua. Suasana menjadi tenang dan kemudian Pak Bambang pergi meninggalkan saya
untuk melanjutkan pekerjaannya. Sejenak saya berfikir, ternyata stigma baik
yang saya labelkan pada Si Fulan terkait bagaimana dia berbicara dan bergaul
tak sepenuhnya benar. Ternyata orang yang banyak bicara, resiko juga besar.
Mungkin anggapan kita, perkataan yang keluar dari mulut kita baik tapi belum
tentu baik jika dinilai oleh orang lain. Ada yang senang dengan perkataan kita,
ada juga yang marah, dan sakit hati dengan omongan kita. Dan hal tersebut yang
kadang kurang kita perhatikan.
Maka sangatlah tepat, kalau Islam
mengatakan bahwa setiap perkataan yang keluar harus berdasarkan ilmu. Islam
juga mengajarkan kalau tidak bisa berbicara kebaikan, maka lebih baik kita
diam.
وَ قُلْ لّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ
اَحْسَنُ، اِنَّ الشَّيْطنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ، اِنَّ الشَّيْطنَ كَانَ
لِـْلإِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya syaithan itu (suka) menimbulkan
perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata
bagi manusia. [QS. Al-Israa’ : 53]
“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua
rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka
aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Bukhari)
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Nawawi berkata : “Maksud Hadits
ini jelas, yaitu agar seseorang tidak mengeluarkan kata-kata, kecuali yang baik
yakni perkataan yang ada manfaatnya. Dia tahu kapan perlu berbicara dan tahu
kapan tidak perlu berbicara. Menurut sunnah, seseorang hendaknya menahan diri
dari banyak bicara, sebab perkataan yang asalnya mubah sekalipun terkadang
dapat menjurus kepada sesuatu yang haram atau makruh. Dan yang demikian banyak
dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, sementara keselamatan lisan merupakan
sesuatu yang mahal harganya.”
Salah seorang sahabat yang bernama
Ibnu Mas’ud R.A., Beliau mengatakan : “Tidak
ada yang lebih berhak untuk dipenjarakan secara berkepanjangan selain dari
lisanku”.
Seorang sahabat (Abu Darda r.a)
berkata : “Aktifkanlah dua telingamu daripada
mulutmu. Karena engkau diberi dua telinga dan satu mulut, agar engkau lebih
banyak mendengar daripada berbicara.”
Karenanya alangkah baiknya seseorang
lebih mengutamakan dan memprioritaskan indera lain (pendengaran) dari pada yang
satu ini (lisan).
Wallahu a’lam bis showab

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus