Traumatis Barat dengan Agama
Respon media
asing terhadap Aksi Bela Islam III pada tanggal 02 Desember kemarin cukup
beragam. Seperti diangkat dalam Harian Republika edisi Sabtu (3/12/2016),
sebutan ‘muslim konservatif’ dan ‘garis keras’ masih digunakan meski media
asing mengakui aksi tersebut berakhir damai.
“Indonesia blasphemy protest draws 200,000;
ends peacefully” adalah judul yang diangkat kantor berita Associated Press.
AP menyebutkan, kelompok ‘garis keras’ telah memanfaatkan isu penistaan agama
untuk dibawa ke tingkat nasional demi ‘agenda ekstrem’. Salah satu agenda
tersebut adalah pemberlakuan syariat Islam.
Sedangkan, the
Guardian menyebutkan kasus Ahok menjadi ujian bagi toleransi beragama di
Indonesia seiring meningkatnya serangan terhadap kaum minoritas dalam beberapa
tahun terakhir.
Unjuk rasa damai
juga menjadi pemberitaan ABC. Media Australia ini menyebutkan, “unjuk rasa
digerakkan oleh sejumlah kelompok Muslim Garis Keras termasuk Front Pembela
Islam, yang menginginkan Gubernur Ahok ditahan”.
Labeling Barat terhadap Islam
‘Muslim Garis
Keras’, ‘toleransi’, ‘ekstrimis’,’pemberontak’ adalah beberapa kosakata yang
sering digunakan Barat dalam melabeli Islam. Kalau kita amati bersama, setiap
pergerakan umat Islam di berbagai pelosok dunia untuk menjaga agamanya juga tak
akan jauh cap tersebut. Pejuang Palestina dan Suriah yang ingin menjaga tanah
air dan agamanya dikonotasikan ‘pemberontak’ oleh media barat. Bahkan Aksi
Damai III kemarin, yang berlangsung tertib, damai, dan bersih yang diikuti
jutaan umat Islam juga dianggap sebagai pergerakan muslim konservatif dan garis
keras.
Seperti Barat
punya parameter sendiri untuk menilai baik buruk citra Islam. Tentunya,
parameter yang mereka ciptakan sendiri bukan dari Islam sepenuhnya. Islam yang ideal
menurut mereka harus toleran, menghargai perbedaan, kebebasan berpendapat, moderat,
cinta damai, lemah lembut. Semuanya memang bagus diterapkan, tapi tak boleh
disamaratakan. Tentunya harus disesuaikan dengan kondisi yang terjadi.
Ada saatnya
Islam berdamai dan ada saatnya melawan. Saat umat Islam dizalimi, umat Islam
harus melawan. Toleransi dalam Islam pun jelas. Kalau seseorang sudah
melecehkan aqidah Islam apakah masih pantas kita sebut toleran. Kebebasan dalam
Islam juga ada batasnya. Kalau sudah menghina Allah, Rosul, sakralitas Al-Qur’an
namanya sudah bukan kebebasan tapi penistaan. Seorang muslim juga harus
menjalankan syariat yang ditetapkan, menjalankan segala perintah dan menjauhi
segala larangan-Nya. Tak apa lah jika konsekuensi tersebut menyebabkan kita
dilabeli Islam konservatif.
Dugaan saya, Barat
masih mengalami trauma barat dengan dominasi agama di kehidupannya. Hal yang
berbau agama dianggap tak relevan lagi dengan gaya hidup Barat. Dalam fase
perabadan Eropa, zaman modern (rasio) menghakimi zaman pertengahan (Katolik/Bible)
sebagai zaman kegelapan.
Disebut kegelapan karena saat itu Barat merasa merasa
terkekang dan terzalimi dengan dominasi kaum gereja. Puncaknya terjadi
inkuisisi yaitu penyiksaan kaum gereja atas nama Tuhan nya. Tak terhitung
ilmuwan dan cendekiawan yang mengalami penyiksaan karena dianggap melakukan
hersi (bid’ah). Dominasi gereja dianggap menghambat kebebasan berfikir dan
perkembangan sains di Barat. Tugas agama kini diemban oleh filsafat sebagai standar
suatu kebenaran.
Jadi, kalau Barat
melabeli Islam sebagai ‘muslim konservatif’ dan ‘garis keras’ kita maklumi
saja. Mungkin mereka masih trauma dan takut kembali ke masa kegelapan. Sekarang
tugas kita adalah memperkenalkan Islam kepada mereka. Kita buktikan bahwa justru
dengan beragama seseorang akan terlepas dari kegelapan.
Komentar
Posting Komentar