Worldview of Islam (II)

Saya meyakini bahwa salah satu fitnah terbesar abad ini adalah masifnya arus infomasi. Informasi mengalir begitu derasnya lewat sarana teknologi. Peristiwa yang terjadi di belahan negara lain dapat kita ketahui seketika dalam hitungan menit. Peristiwa yang sedang viral pun ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan dengan aneka sudut pandang. Masing-masing memberikan opini sesuai kapasitas keilmuan yang dimiliki.

Tuntutan masyarakat akan informasi memang tak terelakkan. Mencegah masuknya informasi di era sekarang adalah hampir mustahil. Generasi yang tumbuh sekarang juga tidak seperti generasi beberapa tahun kemarin. Salah satu ciri Generasi Z adalah generasi yang kritis dan menuntut jawaban cepat atas permasalahan yang mereka hadapi.

Problem mereka seolah terwadahi dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Pertanyaan mereka sedikit banyak terjawab dengan berbagai informasi yang berseliweran di media sosial. Semakin banyaknya portal berita terlebih indepth dalam ulasannya juga menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut. Mereka mencari jawaban yang dapat memuaskan bathin dan langsung dari expert nya.

Jika seperti itu cara mencari sebuah jawaban, saya meramalkan bahwa orang tersebut akan terhegemoni. Sebagai seorang beragama, apalagi saya sebagai muslim, metode mencari jawaban seperti itu tidaknya benar. Metode seperti itu hanya akan melahirkan orang sekuler baru dalam pandangan Islam. Bagi seorang muslim sebelum melangkah jauh, dia harus punya pegangan dan prinsip yang kuat terlebih dahulu. Prinsip itulah yang disebut aqidah Islam. Saya lebih suka menyebutnya dengan istilah worldview of Islam atau cara pandang Islam.

Seorang dengan worldview Islam tidak akan silau dengan berbagai opini, analisis, kajian yang disampaikan oleh para expert. Baginya yang sesuai kaidah Islam, dia ambil dan yang tidak sesuai harus dibuang bahkan diluruskan. Pribadi dengan worldview Islam punya cara pandang sendiri dalam melihat sesuatu. Baginya itu adalah prinsip dan tak tergoyahkan. Dia punya definisi sendiri tentang apa itu kebebasan, toleransi, kesetaraan gender, pemimpin yang ideal, dan lain sebagainya.

Worldview Islam ini lah yang juga dipakai para Rasul dalam menghadapi para umatnya. Dengan prinsip yang kuat, Nabi Musa as mengajak umatnya untuk menyeberangi lautan menghindari kejaran Firaun. Padahal, jika tetap tinggal bersama Firaun mereka akan hidup dengan nyawan, menikmati fasilitas umum, dan sarana hidup yang telah dibangun. Dengan worldview Islam lah, Nabi Nuh as mengikuti perintah Allah untuk membuat sebuah bahtera di atas gunung. Padahal, disaat yang sama ia ditertawakan kaumnya karena ide gilanya.

Mungkin nanti, orang dengan worldview (cara pandang) Islam akan dicap aneh dan terbelakang. Tapi, Insyaallah ini yang akan menyelamatkan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains