Sekolahisme, Linearisme, Ta'dib
Pendidikan Islam
menjadi bahasan menarik saya beberapa bulan ini. Setelah selesainya kegiatan
klasikal Sekolah Pemikiran Islam, saya semakin tersadar ternyata banyak cabang
ilmu Islam yang belum saya pelajari. Berawal dari keingintahuan tentang wacana
Islamisasi Sains, akhirnya saya tertarik mendalami bahasan tentang pendidikan
Islam.
Jika berbicara
Pendidikan Islam, ada beberapa tokoh yang bisa kita jadikan rujukan, salah
satunya Dr. Adian Husaini. Banyak hal baru dan menarik, yang saya peroleh
ketika mendengar paparan Beliau. Dari beberapa hal yang disampaikan, ada beberapa
poin yang selalu Beliau ulang dan tegaskan. Ketua Prodi Doktoral Pendidikan
Islam UIK Bogor ini, menyoroti dua pemahaman salah tentang pendidikan Islam
yaitu paham sekohalisme dan linearisme.
Sekolahisme
telah mempersempit dan membuat keliru umat islam dalam memahami ilmu.
Menurutnya, kewajiban mencari ilmu melekat sejak lahir hingga kita menemui
ajal. Pendidikan Islam yang berjalan sekarang seolah dibatasi dalam lingkup
sekolah, setelahnya orang tidak berkewajiban lagi mencari ilmu. Tujuan
pendidikan melalui sekolah juga sudah melenceng jauh, hanya dimaknai sebagai
industrialisasi, sekolah untuk bekal mencari pekerjaan. Padahal, dalam Islam
mencari ilmu adalah salah satu bentuk ibadah yang jaminan pahalanya surga.
Problem lain
dalam pendidikan Islam yaitu paham linearisme. Maksudnya seseorang harus
menggeluti dan menjadi ahli dalam satu bidang saja. Seorang yang mengambil
pendidikan lintas bidang dianggap menyalahi kaidah belajar. Menurut Adian,
praktek linearisme bisa menghambat potensi seseorang dalam belajar. Justru orang
yang mempunyai kemampuan lebih harus diberikan kesempatan menggeluti bidang
lain. Walaupun menolak linearisme, seorang muslim harus tetap menjadi profesional
di bidangnya. Adian mencontohkan dirinya, dulu seorang jurnalis, tetapi beralih
menekuni profesi lain. Beliau yang punya latar belakang pendidikan kedokteran
hewan, juga tak segan untuk menekuni bidang pemikiran Islam.
Dalam pendidikan
Islam, seorang juga harus bisa membedakan mana ilmu fardhu’ain dan kifayah. Ilmu
fardhu’ain seperti beraqidah lurus dan menguasai Bahasa Arab harus menjadi
kurikulum, yang wajib dikuasai setiap sarjana Muslim. Sebagai llustrasi,
apabila seorang Muslim ingin memperoleh gelar kesarjanaan, maka dilakukan
pengujian terlebih dahulu terhadap ilmu fardhu’ain nya. Apabila tidak lulus di
ujian tersebut, maka ia dianggap tidak lulus walaupun mumpuni secara akademik. Adian
menegaskan jika pendidikan Islam ingin sukses, lembaga pendidikan harus berani
menetapkan standar tersebut.
Adian juga
menawarkan solusi bagaimana seharusnya sistem pendidikan itu berjalan. Menurutnya,
Pendidikan Islam haruslah berbasis pada adab. Prof. Dr. Syed Naquib al-Attas
menyebutnya dengan istilah "ta’dib" untuk suatu proses pendidikan, yang tujuannya adalah membentuk manusia yang
beradab, atau manusia yang baik (a good
man). Hanya dengan jalan ini pulalah peradaban Islam bisa terbangun.
Adab
tak bisa sekadar dimaknai sebagai sopan santun dan budi pekerti baik. Adab
adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan
masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar
dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri,
masyarakat, dan lingkungannya. Hasil tertinggi dari adab ialah mengenal Allah
SWT dan ‘meletakkan’-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan ibadah dan
amal shaleh pada tahap ihsan. Jika konsep adab ini diterapkan dalam masyarakat,
maka akan terbentuklah satu peradaban yang dalam bahasa Melayu disebut
‘tamadun’, yang berbasiskan pada ‘ad-din’. Madinah adalah kota dimana ”ad-Din”
diaplikasikan.
Wallahu
A’lam

Komentar
Posting Komentar