Loss of Adab : Akar Permasalahan Umat

Dalam sebuah majelis ilmu, seorang peserta bertanya kepada pemateri. Pertanyaan sangat umum, sering dilontarkan peserta lain di majelis ilmu. Si peserta bertanya,”Ustadz mengapa kemajuan peradaban saat ini dikuasai oleh bangsa Barat (Eropa), padahal Islam dengan segala perangkat dan sejarahnya telah terbukti mampu memimpin peradaban.” Pemateri, Dr. Henri Salahudin sekaligus Direktur Eksekutif INSISTS menjawab dengan santai dan sedikit tersenyum. Dengan gaya khasnya, Beliau menjawab pertanyaan penanya dengan proporsional.

Henri menyampaikan bahwa kemajuan bangsa Barat saat ini tidak boleh dinafikan dan harus disikapi dengan adil. Banyak hal-hal baik yang patut kita contoh dari kebiasaan masyarakat Eropa, sebaliknya ada hal lain yang harus kita tolak. Beliau menyampaikan bahwa orang Barat sangat komitmen memegang kesepakatan yang telah dibuat bersama dan tidak segan memberikan sanksi terhadap pelanggar. Kepatuhan tersebut menciptakan karakter baik dalam kehidupan bermasyarakat seperti disiplin, tertib, dan mau bekerja keras. Faktor-faktor tersebut adalah salah satu penyebab majunya suatu peradaban.

Sebagaimana tradisi dalam majelis ilmu tersebut, pemateri dengan fair memberikan kesempatan kepada peserta lain apabila ingin memberi sanggahan dan tambahan jawaban. Henri akhirnya memberikan kesempatan tersebut kepada salah satu peserta yaitu Dr. Erma Pawitasari, pimpinan Andalusia Islamic Education. Erma yang beberapa tahun tinggal di Amerika, menegaskan apa yang disampaikan oleh pemateri. Dia mencontohkan tentang peraturan lalu lintas, disana walaupun posisi jalanan sepi dan lampu merah sedang menyala, pengemudi tetap sabar menunggu dan berjalan setelah lampu hijau. Mereka berfikir bahwa aturan yang dibuat akan menciptakan ketertiban dan kemudahan. Di sini malah sebaliknya, aturan dipersepsikan sebagai penghambat dan mempersulit mobilitas pengguna jalan. Akhirnya bisa kita saksikan, orang tak segan menerobos lampu merah, melawan arus untuk mempercepat perjalanannnya.

Menyikapi kemajuan barat saat ini memang harus cermat dan adil. Layaknya roda zaman yang selalu berputar, abad ini adalah eranya peradaban Barat dan harus kita akui dengan jujur. Membebek semua hal yang dilakukan barat untuk mencapai kemajuan adalah hal fatal. Para cendikiawan muslim liberal lulusan kurikulum barat, bisa kita jadikan salah satu pelajaran. Bahkan secara paradoks, Prof. Syedd Naquib Al Attas menyampaikan bahwa semenjak Barat menguasai ilmu pengetahuan, kerusakan di muka bumi semakin menjadi dan hal tersebut tidak ditemukan pada era sebelumnya. Pernyataan Prof. Al Attas patut kita renungkan apakah benar memang seperti itu faktanya? Ya, gejala itu semakin kita rasakan, ekonomi ribawi semakin menjadi, kesenjangan ekonomi semakin lebar sehingga tak kunjung terwujudnya pemerataan, eksploitasi alam tak terbendung dengan dalih bisnis, tindakan asusila menjadi tuntutan dengan kedok kebebasan, dan lain sebagainya.

Kembali ke permasalahan mengapa umat Islam tidak segara memimpin peradaban. Apa yang disampaikan Dr. Henri diawal adalah akumulasi permasalahan umat Islam sebagaimana disampaikan Prof. Syedd Naquib Al Attas. Dalam Konferensi Internasional tentang Pendidikan Islam di Mekah tahun 1977, Prof Al Attas menyampaikan bahwa akar permasalahan umat Islam adalah ‘loss of adab’ atau hilangnya adab. Adab disini tak sekedar dimaknai sebagai tata krama atau sopan santun. ‘Loss of adab’ umat islam adalah hilangnya disiplin, mulai disiplin badan, pemikiran, dan jiwa. Seorang yang beradab menurut Al Attas adalah seorang yang memahami dan mengakui posisinya yang tepat dengan diri sendiri, masyarakat, dan sekililingnya.

Inilah penyakit kronis yang sedang menghinggapi umat Islam. Krisis adab menjalar di semua elemen, mulai dari adab kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, orang tua, para ulama, sesama manusia, adab kepada ilmu, dan adab kepada lingkungan. Seorang yang beradab kepada Allah pasti tidak akan menyekutukan-Nya dengan yang lain karena hal tersebut merupakan kesyirikan. Peneliti INSISTS, Dr. Adian Husaini menjelaskan bahwa tindakan menyamakan Allah dengan makhluk adalah tindakan biadab.

Terhadap Nabi Muhammad SAW kita dituntut harus beradab. Memang Nabi Muhammad adalah manusia, tetapi berbeda dengan lainnya karena Beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia saja diperlakukan beda seperti contohnya seorang presiden, apalagi perlakuan terhadap seorang Rasulullah. Adian menjelaskan bahwa adab terhadap ulama adalah memuliakannya. Ulama shaleh yang tinggal di kampung, menurutnya lebih layak dihormati daripada penguasa yang zalim. Dalam menuntut ilmu pun kita diperintahkan menggunakan adab. Ilmu yang fardhu ‘ain harus lebih diprioritaskan daripada ilmu fardhu kifayah.

Berkaca dari cakupan adab tersebut, nyatalah bahwa umat Islam sedang mengalami problematika ‘loss of adab’. Kita saksikan bagaimana tindakan kesyirikan merajalela dengan motif kesehatan, kekuasaan, dan kecantikan. Kita masih ingat juga bagaimana umat ini sudah berani menghina Al Quran dan para ulama demi kelompok yang mereka bela. Kita lihat pula bagaimana seorang ulama hanya dihormati menjelang pesta demokrasi. Seorang artis lebih dibanggakan daripada siswa SMA yang menjuarai Olimpiade Sains Internasional. Anak muda muslim semakin tidak hormat kepada yang orang yang lebih tua. Para orang tua juga salah menilai ilmu untuk pendidikan anaknya. Mereka memaknai hanya sekadar di bangku sekolah, setelahnya digunakan untuk mencari nafkah, hanya sebatas itu yang mereka memaknai tentang ilmu.

Padahal, Prof. Al Attas menjelaskan bahwa output dari adab adalah adil. Keadilan baru akan terwujud jika umat Islam menjadi umat beradab. Mustahil, umat Islam memimpin perabadan jika keadilan sulit ditegakkan.


Wallahu A’lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains