Dakwah Bil "Bahasa"
Tahukah kita
asal mula nama Arsenal, salah satu kota di negara Inggris. Ternyata kata Arsenal berasal dari Bahasa Arab dar as-sina yang artinya kawasan
industri atau pabrik. Salah satu Ustadz sirah menjelaskan bahwa nama itu
diilhami oleh kekaguman pasukan Eropa saat melihat kawasan industri (pabrik senjata)
Kerajaan Islam yang berdiri megah di tepi Laut Tengah.
Begitu pun
tradisi kongkow sambil ngopi yang kini sedang populer. Kata Kopi terinspirasi dari Bahasa Arab Qahwa. Tradisi ini dulu dilakukan umat
Islam untuk memperbincangkan bisnis mereka dan menjaga shalat malam.
Pada abad
pertengahan, Bahasa Arab memang memegang peranan penting bagi peradaban khususnya
sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Saat itu, kiblat ilmu pengetahuan berada di
Cordoba Spanyol. Orang Eropa berbondong-bondong ke sana ingin mengkaji ilmu dan
sebagai bekal mereka harus bisa berbahasa Arab. Pada masa itu dikenal adigium, jika
masyarakat Eropa ingin disebut manusia intelek maka dia harus menguasai Bahasa
Arab (kearab-araban). Paradoks dengan kondisi sekarang, orang dianggap keren seandainya
sudah bisa berhahasa Inggris (keinggris-inggrisan).
Mungkin kita
baru sadar bahwa bahasa memegang peranan penting dalam maju mundurnya suatu
bangsa. Apabila saat ini Bahasa Inggris menjadi pridamona, memang seperti itu
lah gambaran kemajuan yang sedang mereka miliki, jadi wajar saja. Salah satu
guru agama saya pernah berkata bahwa kosakata mencerminkan konsep, konsep
mencerminkan cara pandang (worldview).
Maka jangan sepelekan dakwah ‘bahasa’ di era keterbukaan saat ini. Perang
pemikiran (ghawzl fikr) salah satu
sarananya adalah menggunakan bahasa atau istilah. Bisa kita saksikan bersama penggunaan
istilah-istilah tentang keislaman sedang marak di pelbagai media sosial sebagai
contoh Islam Toleran, Islam Nusantara, Islam Moderat, Pancasilais, Radikal, dan
lain sebagainya.
Peran Bahasa
juga sangat terlihat dalam proses Islamisasi masyarakat Melayu di Nusantara.
Dalam bukunya Historical and Fiction,
Prof. Naquib Al Attas menjelaskan keberhasilan pendakwah Islam dalam mengangkat
dan mengislamkan Bahasa melayu sehingga berhasil menjadi Bahasa persatuan di
wilayah Nusantara. Bahasa Melayu yang semula hanya digunakan oleh sebagian
kecil Masyarakat Sumatera, kemudian diangkat, di-islamisasi, dan digunakan
sebagai Bahasa pengantar dalam dunia ilmiah di wilayah Nusantara ini. Karena
itulah, simpul Al Attas, Bahasa Melayu dan Agama Islam merupakan dua faktor
penting yang berjasa dalam upaya penciptaan semangat kebangsaan dan persatuan
di wilayah Nusantara. Kini Bahasa Melayu-Indonesia (the Malay-Indonesian Archipelago) merupakan Bahasa muslim kedua
terbesar setelah Bahasa Arab. Pada Tahun 2017, jumlah Muslim di Kepulauan Nusantara
diperkirakan berjumlah 300 juta jiwa.
Prof. Naquib Al
Attas juga mengingatkan pentingnya masalah penggunaan Bahasa dalam bukunya The Concept of Education in Islam, hlm
11.
“Many major key terms in Islamic basic
vocabulary of the languages of Muslim peoples have now been displaced and made
to serve absurdly in alien fields of meaning. This modern cultural phenomenon
is what is causing the confusion of the Muslim mind. It is a kind of regression
towards non-Islamic worldviews, it is what I call the de-islamization of language”
Menurutnya,
dalam menggunakan Bahasa atau istilah-istilah dasar dalam Islam jangan sampai
terjadi kekeliruan dan kesilapan dalam memahami Islam dan pandangannya tentang
hakikat dan kebenaran. Sebab, banyak istilah kunci dalam Islam yang kini
menjadi kabur dipergunakan sewenang-wenang sehingga menyimpang dari makna yang
sebenarnya. Ia menyebutnya sebagai “penafi-islaman bahasa” (de-Islamization of language).
Contoh kasus “penafikan-islaman
bahasa adalah pemaknaan istilah “keadilan” yang diartikan sebagai “tiada
menyebelahi mana-mana pihak dan menyamaratakan taraf tanpa batasan. Contoh
lain, penyalahpahaman makna istilah “adab” yang diartikan hanya sebagai adat
peraturan mengenai kesopanan, yang lazimnya merupakan amalan berpura-pura
sopan. (Lihat, Syed Muhammad Naquib Al Attas, Tinjauan Peri Ilmu dan Pandangan Alam (Pulau Pinang: Universiti
Sains Malasyia 2007), hlm. 60). Seharusnya istilah-istilah dasar Islam, hanya
orang Islam yang layak menjelaskan dan mengartikan. Fenomena “penafikan-islaman
Bahasa” inilah yang kini banyak ditemui di lapangan. Orang di luar Islam,
membuat definisi sendiri tentang istilah-istilah dasar Islam.
Begitu
pentingnya dakwah dengan Bahasa yang kadang tak kita sadari. Sebagai langkah
sederhana, mari kita pilihkan jurusan ‘bahasa’ untuk anak cucu kita, bukan
melulu mengambil jurusan IPA. Apakah Anda berani?

Komentar
Posting Komentar