Belajarlah dari Sejarah Islam
Bumi ini diwariskan untuk umat Islam. Nabi Adam as,
sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah SWT juga diperintahkan untuk
mengesakan Allah SWT dengan berislam. Jadi sebenarnya, Islam yang kita kenal
saat ini sebenarnya sudah diimplementasikan sejak manusia pertama kali
diciptakan di bumi. Hal tersebut dipertegas dengan firman-Nya, “Kamu adalah
umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran : 110)
Juga
dalam hadist Nabi Muhammad SAW :
أَلإْسْلاَمُ يَعْلُو وَلاَيُعْلَى عَلَيْهِ
Islam itu agama yang tinggi, tidak ada yang lebih
tinggi darinya.
Nabi
dan Rasul selanjutnya juga diperintahkan untuk menyampaikan dakwah Islam baik
untuk diri sendiri ataupun umatnya. Di setiap zamannya Islam selalu memberikan
kemenangan, petunjuk, dan cahaya kepada para pengikutnya. Islam selalu
menulirkan sejarah yang baik di setiap periode yang dilaluinya. Sebagai contoh
Nabi Sulaiman as, pada masanya beliau berhasil memberikan kejayaan bagi kaum
Saba’. Saat itu kaum Saba’ berhasil mencapai kejayaan dan kemakmuran sebagai
sebuah negeri sebagaimana disebutkan dalam surah Saba’ ayat kelima belas, “(Negerimu)
adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Itu adalah salah satu yang membuktikan bahwa misi keislaman yang diemban para
Nabi dan Rosul selalu memberikan dampak yang positif bagi kehidupan umat
manusia.
Puncak
kejayaan Islam adalah dimana Rasul terakhir yaitu Rasulullah Muhammad SAW
diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlaq manusia. Cahaya Islam yang turun di
jazirah arab telah memberikan jalan dari kegelapan zaman jahiliyah menuju jalan
terang berdasarkan naungan Islam. Kepimpinan beliau beserta sahahat-sahabatnya
telah mengantarkan jazirah arab menjadi negara Islam yang aman, damai, makmur
dan sejahtera sesuai harapan umat. Kejayaan Islam juga berlanjut setelah
Rasulullah meninggal dunia. Di era kekhalifahan kekuasaan Islam semakin
bertambah sampai Afrika Utara dan Persia.
Islam
telah membawa perabadahan manusia ke arah yang didambakan dan telah memberikan
warisan yang tinggi di bidang teknologi, kedokteran, astronomi, sejarah dan
lain sebagainya. Semua aspek keilmuan yang berkembang selalu diawali dan
dipelopori oleh para ilmuwan Islam. Dimana Islam itu dibawa, disitulah
peradabahan berkembang sangat pesat. Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad
telah menjadi jantung pusat ilmu pengetahuan Islam. Kota Baghdad juga dikenal
sebagai kota modern dengan perencanaan dan arsitek yang berkelas. Sejarah
mencatat, seseorang musafir yang berjalan-jalan di kota Baghdad, merasa kagum
akan kemegahan, dan keindahan kotanya. Di sepanjang pinggiran sungai Eufrat
berdiri pohon-pohon yang rapi dan rindang.
Peradaban
Islam lain juga berkembang pesat Eropa. Di bawah kekhalifan Bani Ummayah,
Cordoba, Andalusia, Granada telah menjadi kota dengan peradaban sangat tinggi.
Cordoba menjadi kota yang paling modern dan megah saat zaman itu. Istana
Al-Hamra menjadi salah satu bukti betapa umat Islam saat itu telah memiliki
peradaban yang sangat tinggi di bidang arsitek. Jadi sangatlah benar ungkapan
salah satu penulis muda, bagaimana beliau menggambarkan kondisi bangsa eropa
saat itu.
====
Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah, oleh lantunan
takbir dan talbiyah
Ketika sunyi membungkam Roma dan Konstantinopel, dalam
kekakuan dogma
Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah,
saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi
Maka bersinarlah perpustakaan Kairo, ketika para dukun
komat-kamit di kegelapan Lisabon
Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak
malam, ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos
Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian
thaharah, ketika ketika para ‘bangsawan’ di London menganggap mandi adalah
aktivitas berbahaya.
Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa
dengan sajian kurma, yoghurt serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba
dan Granada, saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam dengan pudding
darah babi…
-Salim A Fillah,-
Di
era kekinian, hampir satu abad setelah runtuhnya khalifah Ustmani pada tahun
1924 M, umat Islam serasa kehilangan jati dirinya. Kita hidup di sistem yang
selama ini tidak pernah terjadi selama kekhalifan berlansung. Hegemoni barat
yang kuat di semua aspek kehidupan, juga menambah umat ini semakin jauh dari
nilai-nilai Islam. Umat Islam serasa terpuruk di bawah bayang-bayang kaum
Barat. Padahal apa yang didapat oleh Barat saat ini, tidak terlepas dari
jasa-jasa umat Islam yang telah memberikan pondasi yang mapan di berbagai aspek
kehidupan. Kejayaan Islam ratusan tahun bahkan ribuan tahun lalu, yang telah
dibangun para pendahulu kita terasa hilang tak berbekas.
Dan
kini menjadi tugas kita umat Islam untuk mengembalikan kejayaan Islam pada era
saat ini. Para pendahulu kita juga sadar akan hal tersebut. Empat tahun sejak
runtuhnya kekhalifahan Turki Ustmani, seorang pemuda Mesir, Imam Hasan Al
Banna, langsung tersadar dan bergerak untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Beliau membentuk organisasi Ikhwanul Muslimin, untuk mewujudkan kejayaan
tersebut. Kini saatnya kita juga berkontribusi bersama para pendahulu kita
untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Sejarah
Islam, telah memberikan pelajaran berharga bagaimana para pendahulu kita
berhasil mewujudkan kejayaan Islam. Kita sudah bisa mengetahui sejarah yang
akan diukir di masa depan. Inilah hebatnya belajar sejarah dalam Islam.
Ternyata sejarah bukan hanya sebuah rangkaian frame masa lalu yang terulang hari
ini. Dalam Islam, kita mengenal yang namanya nubuwwat. Nubuwwat adalah
penyampaian Nabi tentang masa depan yang belum terjadi di zaman beliau.
Artinya, kita sudah bisa mengetahui dengan pasti sebuah sejarah yang akan
terjadi di masa depan. Dengan pasti dan pasti akan terjadi karena bersumber
pada wahyu. Hingga hari ini, masih banyak nubuwwat Rasulullah yang belum
terjadi. Di antaranya sepenggal penyampaian Rasul dalam hadits ini.
Dari
Abu Qubail berkata: Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash,
dia ditanya: Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu : Konstantinopel
atau Rumiyah? Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya.
Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: Ketika kita sedang menulis
di sekitar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau ditanya: Dua kota ini
manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah? Rasul menjawab,
“Kota Heraklius dibuka lebih dahulu.” Yaitu: Konstantinopel. (HR. Ahmad,
ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)
Hadits
ini dishahihkan oleh al-Hakim. Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim. Sementara
Abdul Ghani al-Maqdisi berkata: Hadits ini hasan sanadnya. Al-Albani sependapat
dengan al-Hakim dan adz-Dzahabi bahwa hadits ini shahih. (Lihat al-Silsilah
al-Shahihah 1/3, MS)
Ada
dua kota yang disebut dalam nubuwwat nabi di hadits tersebut;
1.
Konstantinopel
Kota
yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki. Dulunya berada di bawah
kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota
dengan benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan
Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.
2.
Rumiyah
Dalam
kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud adalah ibukota
Italia hari ini, yaitu Roma. Para ulama termasuk Syekh al-Albani pun menukil
pendapat ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah.
Kontantinopel
telah dibuka 8 abad setelah Rasulullah menjanjikan nubuwwat tersebut. Tetapi
Roma, hingga hari ini belum kunjung terlihat bisa dibuka oleh muslimin. Ini
menguatkan pernyataan Nabi dalam hadits di atas. Bahwa muslimin akan membuka
Konstantinopel lebih dulu, baru Roma. Itu artinya, sudah 15 abad sejak Rasul
menyampaikan nubuwwatnya tentang penaklukan Roma, hingga kini belum juga Roma
jatuh ke tangan muslimin. Kalau Konstantinopel perlu 8 abad untuk bisa
ditaklukkan. Roma, jika dihitung dari penaklukan Konstantinopel hingga hari ini
sudah berlangsung hampir 7 abad dan belum bisa dibuka oleh muslimin.
Entah
perlu berapa abad sejak Konstantinopel runtuh, untuk bisa mengislamkan Roma.
Yang jelas, pasti Roma akan jatuh ke tangan muslimin. Keyakinan yang telah
dibuktikan secara empirik dengan jebolnya ketebalan benteng Konstantinopel.
“Penaklukan pertama terjadi di tangan pembuka dari
Kesultanan Utsmani, 800 tahun setelah Nabi mengabarkan penaklukan tersebut.
Penaklukan kedua akan terbukti dengan izin Allah, dan pasti!” begitu Syekh al-Albani dengan penuh
keyakinan menjelaskan hadits nubuwwat tersebut dalam kitabnya al-Silsilah
al-Shahihah.
Lebih
jelas lagi, beliau menajamkan, “Dan tidak diragukan juga bahwa penaklukan
kedua (Roma) menguatkan kembalinya khilafah rasyidah untuk umat ini.” Orang
tua Muhammad Al-Fatih, gurunya, masyarakatnya, bahkan al-Fatih sendiri tidak
pernah menduga bahwa penakluk Konstantinopel itu adalah Muhammad al-Fatih.
Yang
mereka semua lakukan hanyalah bermimpi kebesaran, mengukir harapan dan
melakukan semua persiapan. Untuk melahirkan pembukti nubuwwat Nabi. Dan mereka
telah berhasil. Kita pun seharusnya sama. Tidak ada yang pernah menduga bahwa
penakluk Roma adalah generasi kita, atau anak cucu keturunan kita, bahkan
mungkin dari dalam rumah kita. Tetapi mari kita bermimpi kebesaran itu,
mengukir harapan itu dan melakukan semua persiapan itu. Untuk melahirkan
pembuka Roma.
Dihadist
lain juga disebutkan bahwa Islam pada waktunya akan mengalami kejayaan seperti
yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW dan Khulafaur rasyidin. Hadits ini
semakin menguatkan fakta dari hadits sebelumnya, bahwa Islam akan kembali
bangkit menuju masa kejayaan.
“…Kemudian
akan berlangsung kerajaan sewenang-wenang menurut kelangsungan yang dikehendaki
Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya ketika Ia menghendaki. Kemudian akan
berlangsung khilafah diatas jalan kenabian’ Lalu beliau diam” ( HR. Ahmad)
Seperti
yang terfirman dalam surah Ali Imron ayat ke seratus empat puluh. “Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran).”
Jelaslah
sudah bahwa era kebangkitan Islam sangatlah dekat dan pasti. Tugas kita sebagai
umat Islam adalah berkontribusi semaksimal mungkin untuk menyongsong dan
mewujudkan hal tersebut. Nubuwwat memang menerangkan bahwa semua itu pasti
terjadi, tetapi bukan menjadi alasan bagi kita umat Islam untuk berpangku
tangan dan hanya menunggu. Karena semua itu pasti akan dimintai
pertanggungjawaban oleh Allah SWT terkait kontribusi apa yang kita berikan
selama hidup di dunia.

Komentar
Posting Komentar