Ikatlah Ilmu dengan Menulisnya
Bismillahirohmanirohim,
Pernahkah kita ikut seminar, dialog, kajian yang
narasumbernya adalah orang yang kita idolakan. Pasti dengan khusyuk kita akan
mendengarkan dan memperhatikannya dengan seksama. Di saat itu pula kita merasa
menjadi sangat semangat dan terdoktrin dengan apa yang dia sampaikan. Sesaat
itu pula kita berusaha untuk merealisasikan apa yang disampaikan. Seminggu
kemudian, masih tersisa kata-kata semangat yang dia sampaikan dan sebulan
kemudian kebanyakan dari kita sudah lupa dengan apa yang dia sampaikan.
Dulu sewaktu di SMA, saya masih ingat beberapa teman
perempuan sangat rajin menulis di buku catatan. Sehabis guru menjelaskan dia
menulis catatan, apalagi kalau mau ujian. Tulisannya sangat rapi dan indah layaknya
menulis sebuah cerpen. Dan coba kita perhatikan kebanyakan dari mereka pasti
berprestasi bagus dikelasnya, kalaupun tidak pastilah sifat orangnya sangat baik
(disiplin, rajin, ulet).
Awal-awal kuliah, saya pernah mendeklarasikan diri
bahwa saya adalah tipikal orang yang tidak hobi membaca dan menulis. Pada waktu
itu, untuk cenderung memahami sesuatu hal saya lebih tertarik mendengar cerita
atau penjelasan dari orang lain. Alhamdulillah, akal saya berjalan normal dan
analitik. Akhirnya mulai saya pikirkan dan saya pahami dalam-dalam, bahwa apa
yang saya doktrinkan di pikiran ini terkait hobi tadi adalah salah dan tidak
beralasan. Akhirnya dengan niat yang lurus, saya ikrarkan bahwa saya harus hobi
menulis dan membaca. Dari merubah persepsi tersebut, saya mulai menemukan dan
mengetahui esensi sebenarnya. Maksudnya jika saya hanya mendengarkan penjelasan
dari orang lain, maka saya akan cenderung berfikiran sempit dan fanatik. Yang
saya ketahui dan persepsikan terkait penjelasan seseorang, hanya sebatas yang
apa dia sampaikan. Seandainya kita belajar melalui metode membaca referensi
buku atau media yang lain, pastilah kita menemukan wawasan yang lebih luas,
adil, dan bijak penilaian terhadap sesuatu. Karena kadang apa yang kita dengar,
belum tentu sesuai dengan apa yang disampaikan dan dia lakukan sehari-harinya.
Dengan membaca dan menulis, kita akan mengingat
hal-hal penting yang kadang terabaikan dan terlupakan. Orang yang menulis juga
pasti akan berfikir dan berusaha, apa yang dituliskan minimal sudah dia
praktekkan dalam kehidupannya.
Maksud saya kalau kita hanya mengandalkan ingatan,
pastilah tidak akan bertahan lama, karena ingatan ini ada batasnya. Saya
contohkan lagi, dulu sewaktu di SMA saya sangat hobi dan tertarik pada
pelajaran Matematika. Kadang rumus-rumus yang rumit, saya hafal di kepala
saja. Tapi kini baru terasa, rumus "Sin Cos Tan" yang dulu sangat
saya kuasai, kini lupa dan hilang seketika nyaris tanpa bekas layaknya orang
pingsan yang baru tersadar, tidak ingat apapun. Itulah bukti keterbatasan
ingatan yang kita miliki.
Kita tahu bersama bahwa para tokoh besar yang kita
kenal misal : para negarawan, ulama, pahlawan, sebagian besar dari mereka
memberikan warisan memorial berupa buku atau tulisan lainnya. Dengan tulisan
yang bermanfaat dan bermakna mereka akan selalu dikenang oleh orang yang
membaca walaupun zaman sudah berganti dan raga sudah didalam tanah. Memang
sebenarnya kalau kita mau sadar, Allah SWT sudah menyuruh kita untuk selalu
belajar dengan membaca setiap hal yang terjadi dalam hidup kita.
Dalam Alquran, ayat yang pertama turun adalah iqra', yang artinya bacalah. Pelajaran berharga juga diberikan oleh Sahabat Rasulullah SAW yang merupakan khalifah ke-4 yaitu Ali bin Abi Thalib RA melalui untaian kata mutiaranya, yang akan selalu diingat jika mengetahui esensi sebenarnya dari menulis. Beliau berkata Ikatlah Ilmu ini dengan tulisan, sungguh kata-kata yang indah dan sederhana tetapi dalam maknanya. Imam Syafie juga berkata dalam kitabnya, "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yg kuat. Termasuk Kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja".
Dalam Alquran, ayat yang pertama turun adalah iqra', yang artinya bacalah. Pelajaran berharga juga diberikan oleh Sahabat Rasulullah SAW yang merupakan khalifah ke-4 yaitu Ali bin Abi Thalib RA melalui untaian kata mutiaranya, yang akan selalu diingat jika mengetahui esensi sebenarnya dari menulis. Beliau berkata Ikatlah Ilmu ini dengan tulisan, sungguh kata-kata yang indah dan sederhana tetapi dalam maknanya. Imam Syafie juga berkata dalam kitabnya, "Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yg kuat. Termasuk Kebodohan kalau engkau memburu kijang, setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja".
Di akhir tulisan ini saya hanya ingin berkata, mulai
detik ini mari kita tuliskan hal baik untuk kita sampaikan kepada orang lain
!!!
Komentar
Posting Komentar