Ini Hadiah Beneran atau Bukan ?



Pagi itu, masih dalam suasana Idul Fitri, Ayah saya seketika menghampiri saya ketika berdiri di depan teras. “Kabeh wong kok korupsi, kapan negarane iso maju”, celetuk Ayah saya, seakan berusaha memberikan update info terbaru yang baru dia dapat. Seketika itu pula saya timpali, “Nek korupsi yang merugikan negara wong wis pada ngerti Pak, nek Gratifikasi, lha kuwi sing ngeri dan sulit diberantas”.  Selang berapa detik omongan saya selesai, seketika itu pula Ayah saya pergi, tidak meladeni obrolan panjang dengan saya, seolah menandakan begitu muaknya mendengar berita korupsi lagi.

Berselang beberapa menit, saya pastikan berita tersebut dengan melihat breaking news di TV. Ooh, ternyata benar, ada terduga korupsi baru yang ditangkap KPK. Ini agak unik, si terduga ternyata bukan politikus ataupun pengusaha, tetapi seorang akademisi yang baru beberapa bulan mengisi jabatan sebagai birokrat. KPK berhasil membuat gebrakan, mereka berusaha mengungkap praktek kongkalikong dalam transaksi bisnis perminyakan. Entahlah transaksi apa yang dilakukan, tapi yang jelas mereka seolah memberikan gambaran pada kita bahwa ada praktek-praktek di dunia perminyakan yang ganjal dan cenderung tidak memihak pada industri dalam negeri. Ternyata benar statement yang saya sampaikan kepada Ayah saya. Kenapa? Karena selang beberapa saat, si terduga ditetapkan sebagai tersangka, dia mengeluarkan pernyataan resmi melalui media pers. Intinya beliau berkata, bahwa dia tidak melakukan korupsi sebagaimana yang dituduhkan, tetapi hanya melakukan melakukan gratfikasi.

Ada yang bertanya, apa sih sebenarnya makna Korupsi yang lebih kita kenal dengan KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme)? Saya yakin sebagai seorang akademisi sekaligus pejabat negara, beliau pasti lebih paham dan mengerti mengenai hal tersebut. Yang menjadi pertanyaan, kenapa beliau masih melakukan dan terjerumus dalam tindakan buruk tersebut?

Setiap perbuatan bathil termasuk korupsi di dalamnya, tak cukup bekal moralitas, ilmu akademis, dan nilai-nilai kebaikan umum untuk membentengi. Tetapi dibutuhkan benteng yang lebih kokoh untuk menghadangnya yaitu bekal agama. Islam menuntun dan mengatur kehidupan kita dengan lengkap dan detail. Simaklah hadits berikut ini. Terdapat riwayat yang sangat menarik untuk menggambarkan permasalahan ini.

Dan Abu Hamid as Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengangkat salah seorang dari suku Azad sebagai petugas yang mengambil zakat Bani Sulaim. Orang memanggilnya dengan ‘Ibnul Lutbiah. Ketika datang, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengaudit hasil zakat yang dikumpulkannya.

Ia (orang tersebut, Red) berkata,”Ini harta kalian, dan ini hadiah,”

Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Kalau engkau benar, mengapa engkau tidak duduk saja di rumah ayah atau ibumu, sampai hadiah itu mendatangimu?”

Lalu beliau berkhutbah, memanjatkan pujian kepada Allah azza wa jalla , Lalu beliau bersabda : “Aku telah tugaskan seseorang dari kalian sebuah pekerjaan yang Allah azza wa Jalla telah pertanggungjawakan kepadaku, Lalu ia datang dan berkata “yang ini harta kalian, sedangkan yang ini hadiah untukku”. Jika dia benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, kalau benar hadiah itu mendatanginya. Demi Allah , tidak boleh salah seorang kalian mengambilnya tanpa hak, kecuali dia bertemu dengan Allah dengan membawa unta yang bersuara, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik,” lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya, dan berkata: “Ya Allah, telah aku sampaikan,” (rawi berkata),”Aku Lihat langsung dengan kedua mataku, dan aku dengar dengan kedua telingaku.” [HR Bukhari, 6979 dan Muslim, 1832]

Karena seringnya orang mempermainkan istilah syariat, sehingga sesuatu yang haram dianggapnya bisa menjadi halal. Begitu pula dengan suap. Di-istilahkan dengan bonus, fee, dan sebagainya. Istilah suap sekarang malah diperhalus dengan sebutan gratifikasi.

Dulu saya sendiri juga bingung bagaimana membedakannya, ini murni hadiah atau suap. Disangka hadiah kok hanya diberi saat melakukan tugas dinas saja. Disangka suap juga tak bisa, soalnya kita tidak meminta dan diberi setelah pekerjaan selesai sehingga tak ada lagi intervensi. Hati terus bergejolak, bingung memilih istilah mana tepat atas tindakan tersebut.

Padahal dalam agama sudah jelas, yang halal pasti halal, yang haram pasti haram. Jika kita ragu/samar (syubhat) seperti yang saya alami tadi, lebih baik ditinggalkan karena syubhat cenderung kepada hal haram dan orang yang meniggalkannya maka terselamatkan agama dan kehormatannya. Sampai suatu saat, teman saya berceletuk berkata, “Kalau seragammu dilepas dan kamu berganti pakai seragam lain, apakah orang tersebut masih mau memberimu.” Dari ucapan teman saya yang spontan dan terkesan bercanda, malah saya menemukan pencerahan dan hidayah. Alhamdulillah, akal sehat saya berbicara (ucapku dalam hati). Ooh, berarti selama ini saya salah dalam menilai dan setelah saya pelajari Islam, hal tersebut sangat selaras dengan hadits yang disampaikan di atas tadi.

Sebenarnya apa sih bahaya suap (istilah sekarang gratifikasi)? Coba kita gunakan akal sehat, jika kita sering diberikan sesuatu oleh orang lain, maka dalam diri kita akan timbul sikap untuk selalu mengharap pemberian orang lain. Kepekaan untuk berbagi dan memberikan sesuatu kepada orang lain akan hilang, kalaupun masih ada itu pasti dikarenakan kita masih menerima pemberian juga dari orang lain. Coba kalau kita sudah tidak diberi orang lain, maka kita akan malas memberikan sesuatu juga kepada orang lain. Maksud saya orang yang sudah terbiasa menerima hadiah/suap/gratifikasi, pasti dalam hatinya timbul kesempitan, karena yang dia pikirkan hanya mengharapkan dari orang lain. Sehingga jika hadiah itu tak ada, hilang kepekaan dalam dirinya, akibatnya dia menjadi tak bergairah berkerja, jarang bersedekah, malas shalat, dsb. Padahal pepatah berkata, Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah. Kalau kita punya mindset seperti itu aduh celakanya. Pekerjaan kita jadi tak bermakna dan hilang keberkahannya. Masih lebih mulia, pemulung yang menggunakan tetes keringatnya dan mempekerjakan orang lain untuk saling menolong antar sesama.

Wallahu A'lam Bisawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains