Hijrah Story Part 1

Beberapa bulan lalu saya mendapat undangan dari salah satu lembaga nirlaba untuk menghadiri seminar tentang Al-Quran dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1435 H, dengan tema “AmazingMuharam”. Salah satu staf lembaga menelpon saya, “Bapak diusahakan hadir ya, pematerinya bagus-bagus kok. Karena Bapak kami undang, Bapaknya masuknya gratis lw, kalau bayar tiketnya mahal bisa ratusan ribu Pak.”

Pikirku lumayan nih, kapan lagi dapat kesempatan langka seperti ini. Tanpa pikir panjang, saya mengiyakan tawaran si mbak(staf) tadi. Undangan pun telah disampaikan. Saya baca pelan-pelan, fokus terutama pada pemateri atau narasumber. Berderet sejumlah nama, yang paling menonjol Bapak Jusuf Kalla, mantan wapres RI dan beberapa tokoh ulama yang concern dalam wakaf Al-Quran di daerah-daerah pelosok. Eee, ternyata ada satu nama narasumber lagi, kali ini artis, namanya Peggy Melati Sukma. Kenapa orang ini diundang ya, berkhayal dalam benak ya? Kemudian seketika saya berpikir, pasti ada yang istimewa dari orang ini.

Flashback, Peggy Melati Sukma itu artis zaman saya masih SD. Seketika teringat kata “Pusinnggg”, jargon yang sering diucapkan Mbak Peggy dalam serial drama “Gerhana”. Waktu kecil, acara ini jadi tontonan wajib di saat sore hari. Ceritanya cukup menarik dan artis-artisnya juga kocak-kocak, lumayan lah untuk ukuran acara TV pada saat itu.

Back to topic, tibalah pada acara tersebut. Sayang sekali Bapak Jusuf Kalla tak bisa hadir, karena ada acara mendadak dan mungkin lebih penting dari kegiatan ini. Tapi, no problemo-lah, acara tetap jalan, toh masih banyak narasumber lain yang tak kalah bagusnya. Narasumber session pertama yaitu Ibu Hj. Irena Handono (mualaf mantan pendeta) dan Peggy Melati Sukma. Kebetulan sekali Mbak Peggy jadi narasumber pertama, semoga rasa penasaran saya terjawab. Seketika keluarlah narasumber dari belakang panggung.

Subhanallah, ucap saya dalam hati ketika melihat Mbak Peggy Melati Sukma keluar dari balik panggung. Dengan hijab panjangnya berwarna kuning, beliau memberikan salam kepada kami. Sungguh muslimah yang anggun, berbeda sekali ketika tampil di TV beberapa tahun yang lalu. Pembicaraan dengan moderator pun dimulai, mengapa Mbak Peggy bisa sampai tahap seperti ini. Dari situ, rasa penasaran saya sedikit demi sedikit mulai terungkap.

Diceritakanlah perpajalanan hidupnya dari awal keartisan hingga beberapa tahun lalu, ketika dia menghilang dari sorotan media dikarenakan beberapa persoalan pribadi yang menimpanya. Segala bentuk kesuksesan telah beliau raih mulai dari dunia akting, bisnis, dan modelling. Di sela-sela kesibukannya, Mbak Peggy juga aktif dalam kegiatan sosial dan menjadi duta Indonesia dalam beberapa utusan. Kalau kita gambarkan, sungguh sempurna kehidupan Mbak Peggy, ditengah kesuksesan dalam karier dan rezeki, dia masih sempat melalukan kegiatan sosial untuk membantu sesama dan menjadi duta Indonesia untuk kegiatan positif lainnya.
Apakah Mbak Peggy bahagia dengan semua pencapaiannya? Ternyata tidak, sebagaimana dia sampaikan, materi yang dikumpulkan tak mampu memberikan kebahagian. Jiwa sosialnya ternyata juga tak memberikan kepuasan bathin saat selesai melakukannya. Dia salah orientasi, semua hal yang dilakukan hanya semata untuk diri sendiri dan orang lain. Tak ada tujuan hakiki yang ingin dituju, jadilah semua itu terasa hampa. Semua kebaikan yang dilakukan hanya untuk sosial/kemanusiaan, tak terpikir sebagai nilai ibadah atau penghambaan kepada Allah SWT.

Kemudian saat ujian datang beberapa tahun yang lalu, Mbak Peggy berusaha menyelesaikan dengan caranya sendiri. Dia sampaikan bahwa dia merasa sebagai sosok perempuan yang tangguh, kenapa hal kecil tersebut tak mampu ia selesaikan. Semakin dicari jalan keluarnya, ternyata masalah semakin rumit dan semakin sulit diselesaikan. Dari titik itu, akhirnya dia berpikir dan tersadarkan, dalam benak berkata “Kenapa jadi seperti ini?” Alhamdulillah, Allah SWT memberikan hidayah dan membukakan pikiran Mbak Peggy. Dia sadar bahwa cara pandang yang dianut selama ini adalah salah. Dia sering mengabaikan peran Allah dalam setiap jejak hidupnya. Yang terpikir, semuanya didapat dan diperoleh merupakan hasil jerih parahnya.

Dia berjanji, setelah semua kejadian yang dialami, dia akan memperbaiki cara pandang hidupnya. Dia juga berkata, untuk melepas semua masa kelamnya, mau tidak mau dia harus mencari lingkungan dan pergaulannya baru, yang dapat mendukung semua perbaikannya. Dia juga berkata, bahwa untuk mencari kebahagian hakiki, tak ada pilihan lain selain kita mengamalkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh pelajaran yang sangat berharga dan menginspirasi khususnya bagi kaum wanita dan umat islam pada umumnya, bagaimana seorang Peggy Melati Sukma berhijrah menuju kebaikan. Semoga kita dapat dapat mengambil ibrah dari kisah tersebut dan memperbaiki cara pandang hidup kita dalam mencari kebahagian hakiki.

====
* Sedikit analisis dari penulis, ternyata Mbak Peggy Melati Sukma terjebak penyakit HUMANISME yang didengung-dengungkan kaum Barat. Penyakit ini mulai menjangkiti sebagian masyarakat kita terutama para aktivitas sosial dan kemanusiaan. Sekilas, gagasan humanisme memang tampak bertujuan baik yaitu untuk tujuan kemanusiaan. Tapi jika dirunut lebih teliti, dalam pandangan ini justru tersimpan doktrin pengingkaran terhadap Tuhan dan jati diri manusia itu sendiri. Jika segala sesuatu harus dipusatkan pada manusia, maka tugas Tuhan sudah selesai sampai tahap penciptaan saja. Selebihnya menjadi urusan manusia. Manusia akan diberi kebebasan sebebas-bebasnya untuk mengatur urusannya sendiri tanpa campur tangan Tuhan. Dalam hal ini, secara sederhana inti doktrin humanisme adalah ingin menuhankan manusia dengan dalih kemanusiaan. Selain berujung pada ‘pembunuhan’ Tuhan, humanisme juga berujung pada pengingkaran terhadap jati diri manusia itu sendiri. Dalam masalah legalisasi praktik gay dan lesbian di atas, pengingkaran terhadap jati diri manusia begitu mudah diidentifikasi.

Untuk mewujudkan wajah Islam yang humanis, kita tak perlu mengadopsi paham humanisme yang jelas-jelas membawa kerusakan pada manusia dan alam. Yang harus lebih kita tekankan adalah pemahaman kita terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya. Konsep “insan kamil” yang dikenalkan oleh Muhammad Iqbal bisa jadi rujukan, yaitu Islam yang menggabungkan sisi kemanusiaan, keindahan, dan kesempurnaan, tanpa menghilangkan ketakwaan dan hubungan erat kita dengan Tuhan. Kita tidak perlu memperjuangkan humanisme dengan menggadaikan keyakinan agama kita (Islam). Toh Islam pada hakikatnya sangat menghargai manusia, melebihi apa yang ditawarkan oleh paham humanisme. Islam jika dilihat dari sudut antroposentris, ia dekat dengan teosentris, dan jika dilihat dari sudut teosentris, ia sangat kental dengan antroposentris.

Alhasil, paham humanisme selamanya tidak akan pernah memberikan jawaban yang benar-benar solutif terhadap kehidupan manusia. Yang ada, manusia justru akan semakin terasing di dunianya sendiri, karena jika manusia melupakan Allah, maka Allah akan menjadikan mereka lupa terhadap jati diri kita sendiri.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS al-Hasyr: 19)

(Artikel tentang Humanisme dikutip dari situs http://www.hidayatullah.com, ditulis oleh: Jauhar Ridloni Marzuq, Pegiat kajian NUN Center lil Dirasah al-Islamiyyah wal Hadhariyah, IKPM Cabang Kairo, Mesir)

Wallahu a’lam bis showab.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains