Ingat Allah Dimanapun Kapanpun
Ibrahim bin Al-Junaid menyebutkan
bahwa ada seorang laki-laki yang merayu wanita. Lalu wanita itu berkata
kepadanya, “Engkau sudah mendengar Al-Quran dan Al-Hadits. Engkau juga lebih
mengetahuinya.”
Laki-laki itu berkata, “Kalau begitu tutuplah
pintu!”
Maka wanita itu menutup pintu dan mereka ada
di dalam rumah berduaan. Tatkala laki-laki itu mendekatinya, maka wanita itu
berkata, “Masih ada pintu lagi yang belum kututup.”
“Pintu yang mana?”
Wanita itu menjawab, “Pintu yang membatasi
antara dirimu dan Allah.” Akhirnya laki-laki itu tidak jadi mendekatinya.
==
Syu’bah menuturkan dari Manshur, dari Ibrahim,
ada seorang laki-laki yang sedang berbincang-bincang pada seorang wanita. Cukup
lama mereka berdua mengobrol, hingga akhirnya dia meletakkan tangannya di paha
wanita itu. Setelah menyadari apa yang dilakukannya, dia segera beranjak pergi
dan meletakkan tangannya di atas bara api hingga melepuh.
==
Al Ashama’y menuturkan, ada seorang A’raby
yang duduk berdua dengan seorang wanita. Lalu tiba-tiba saja dia ingin
mencumbui wanita itu. Tatkala kembali menguasai diri dan menghindar darinya,
dia berkata, “ Bagaimana mungkin ada seorang yang menjual surge yang luasnya
seluas langit dan bumi, dengan sejumput barang yang ada di antara ujung ibu
jari dan telunjuk, karena pandangannya yang sempit.”
Wahb bin Munabbih menuturkan, ada seorang ahli
ibadah dari kalangan Bani Israil yang selalu beribadah di biaranya. Lalu ada
laki-laki lain dari kalangan Bani Israil yang memberikan sejumlah uang kepada
seorang wanita pelacur agar dia merayu laki-laki ahli ibadah itu. Pada suatu
malam yang gelap dan turun hujan, pelacur itu mendatangi biaranya dan memanggil-manggil namanya. Laki-laki ahli
ibadah menemuinya di ambang pintu.
“Berilah aku tempat untuk berlindung,” kata
wanita pelacur.
Namun laki-laki ahli ibadah membiarkannya,
kemudian ia masuk lagi untuk shalat.
“Wahai hamba Allah, berilah aku tempat
berlindung. Apakah engkau tidak tahu kegelapan malam yang bercampur hujan ini?”
Setelah terus mendesak, akhirnya laki-laki ahli
ibadah memperkenannya untuk berlindung. Wanita pelacur tidur terlentang, dekat
laki-laki ahli ibadah, sambil memamerkan keelokan tubuhnya dan merayunya.
“Tidak demi Allah. Aku akan melihat bagaimana
kesabaranmu dalam merayuku jika menghadapi api,” kata laki-laki ahli ibadah
sambil mendekati lampu, lalu meletakkan salah satu jarinya di atas apinya
hingga terbakar. Setelah itu dia kembali lagi mengerjakan shalat. Wanita
pelacur kembali merayunya, lalu laki-laki itu mendekati lampu lagi dan membakar
jarinya yang lain. Begitu seterusnya hingga semua jarinya terbakar dan wanita
itu melihat apa yang dilakukkannya. Setelah itu wanita pelacur tersebut pingsan
dan meninggal seketika.
==
Abu Bakar Al Kattany berkata, “Suatu kali
tatkala musim haji pernah diselenggarakan dialog yang mengupas masalah cinta di
Makkah. Maka banyak orang-orang tua yang angkat bicara dalam forum itu.
Sementara Al Junaid adalah orang yang
paling muda di antara mereka. Mereka berkata kepadanya, “Sampaikan pendapatmu
wahai penduduk Iraq!”
Maka dia menundukkan mukanya dan air mata
menetes dari kedua matanya, kemudian dia baru berkata, “ Orang yang jatuh cinta
adalah hamba yang mengabaikan dirinya, selalu menyebut Rabb-Nya, melaksanakan
hak-hak-Nya, memandang-Nya dengan hati, membakar hati dengan cahaya
kehendaknya, minumannya berasal dari bejana cinta-Nya, jika bicara dengan
menyertakan Allah, jika berucap dari Allah, jika bergerak menurut perintah
Allah, jika diam bersama Allah, dia dengan Allah, milik Allah, dan bersama
dengan Allah.”
Setelah mendengarnya orang-orang tua pun
menangis. Mereka berkata, “Ini keterangan yang tidak membutuhkan tambahan lagi.
Semoga Allah memberikan keperkasaan kepadamu wahai pemimpin orang-orang yang
berilmu.”
*****
Saya
kembali menukil kisah-kisah dari buku yang berjudul “Taman Orang-Orang Jatuh Cinta
dan Memendam Rindu” buah karya
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Sungguh banyak sekali hikmah dan pelajaran yang saya
ambil dari membaca buku tersebut. Buah tangan yang sangat berharga. Beliau
mengajari kita bagaimana cara mencintai yang benar sesuai tuntunan Al-quran dan
Al-hadits. Kecintaan tertinggi sudah sepatutnya kita persembahkan untuk Allah
SWT dan Rasulullah SAW, baru kemudian ke yang lainnya. Buku ini sangat cocok
untuk semua kalangan, terutama untuk para remaja yang ingin mengetahui hakikat cinta
yang sebenarnya.
Kisah-kisah
orang terdahulu menjadi teladan bagi kita bagaimana mereka sekuat mungkin mempertahankan
iman di tengah godaan hawa nafsu yang besar. Di dalam riwayat At-Tirmidzy,
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang
perkasa itu ialah yang mampu menundukkan nafsunya dan berbuat untuk sesuatu
setelah kematiannya, sedangkan orang yang lemah itu ialah yang mengikuti hawa
nafsu yang membisikinya dan menduga-duga terhadap Allah dengan berbagai dugaan.”
Dalam hadits lain disampaikan bahwa diantara tujuh golongan yang mendapat
perlindungan ‘Arsy Allah pada hari tiada perlindungan selain-Nya, salah satunya
adalah seorang laki-laki yang diajak wanita untuk berzina kemudian ia menolak
dan berkata, “Aku takut kepada Allah.”
Yakinlah
bahwa kemaksiatan adalah kesenangan sesaat yang akhirnya akan memberikan
kehinaan pada pelakunya. Sesungguhnya orang yang meninggalkan suatu keburukan/kemaksiatan
karena Allah SWT maka Allah SWT akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih
baik.
Allahlah
yang layak dimintai agar melindungi kita dari nafsu yang menyuruh kepada bisikan
kejahatan dan menjadikan nafsu (kehendak) kami mengikuti apa yang diridhai-Nya.
Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Wallahu a’lam
bis showab

Komentar
Posting Komentar