Ibadah Puasa Melatih Kecerdasan Emosional
Ibadah puasa datang lagi. Ada momen bahagia, di kala seorang Muslim
menyambutnya. Bulan puasa, ibadah dimana seorang muslim menahan lapar dan haus
dari fajar hingga terbenamnya matahari. Bagi seorang muslim yang menghayati dan
menantikan datangnya bulan ramadhan, selalu ada kesan istimewa dan berbeda di
setiap tahunnya, walaupun sudah bertahun-tahun kita menjalani. Ibadah puasa tak
sekadar menahan lapar dan haus. Tidak diragukan pahala yang besar ini, tidak
diberikan kepada orang yang hanya sebatas meninggalkan makan dan minum semata.
Ini sesuai sabda Nabi SAW, “Barang siapa
yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak
butuh dengan meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Buhkhari dari Abu
Hurairah RA)
Dalam sabda yang lainya Rasulullah SAW bersabda, “Jika pada hari salah seorang sekalian berpuasa, maka janganlah ia
mengucapkan kata-kata kotor, membuat kegaduhan, dan juga tidak melakukan
perbuatan orang-orang bodoh. Dan jika ada orang mencacinya atau mengajaknya
berkelahi, maka hendaknya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Nah, sudah mulai mengerti kan, kalau puasa itu tak sekadar menahan lapar
dan haus. Kalau hanya itu akan sangat mudah kita menjalaninya, apalagi
sehari-hari kita beraktivitas tanpa menguras fisik ekstra. Seperti itu kita
ulangi setiap hari, di sore hari kita lampiaskan dengan mengkonsumsi makanan
yang banyak untuk mengganti porsi makan di siangnya. Apakah itu namanya puasa,
bukankah itu hanya sekadar mengubah pola makan saja.
Puasa tak sekadar butuh kekuatan fisik dengan menahan lapar dan haus,
tetapi butuh manajemen dan kekuatan emosional bahkan spiritual untuk memperoleh
keutamaan pahalanya. Maka jika kita berpuasa, puasakan juga pendengaran,
penglihatan, lisan, dan seluruh anggota tubuh. Jangan jadikan sama antara saat
berpuasa dan tidak.
Bagi seorang muslim, tak ada alasan untuk bermalas-malasan jika sedang
berpuasa. Tak ada alasan pula tuk menjadi tidak produktif dalam segalanya baik
kerja, ibadah, ataupun aktivitas lainnya. Hadits tidurnya orang berpuasa itu
ibadah adalah dhaif, jadi tak alasan lagi untuk menghabiskan waktu puasa kita
untuk bermalas-malasan terlebih menghabiskan waktu menunggu berbuka dengan
tidur.
Rasulullah SAW beserta para sahabat tak pernah mencontohkan hal itu.
Justru bulan Ramadhan adalah bulan istimewa untuk meraihkan segala yang
dicitakan. Sejarah berbicara, justru momen-momen penting dalam sejarah Islam
tercipta di bulan Ramadhan. Sudah menjadi cerita umum bahwa peristiwa besar
dalam sejarah perjuangan Islam terjadi di bulan Ramadhan, antara lain : terjadinya
Perang Badar, Penaklukan Mekah (Futtuh Makkah), Penaklukan Andalusia, dan lain
sebagainya.
Kesemuanya membuktikan bahwa ramadhan sama sekali tidak mengurangi
produktivitas seorang muslim. Dari peristiwa tersebut, terbukti bahwa puasa
bagi seorang muslim tak hanya dibutuhkan kekuatan fisik saja tetapi diperlukan
kekuatan dan kecerdasan emosional untuk mencapainya.
Perang Badar misalnya, saat itu jumlah pasukan muslim sekitar 300-an
orang sedangkan pasukan Quraisy berjumlah 1000-an. Kalau kita ambil logika umum
pastilah pasukan muslim yang kalah karena jumlah mereka hanya sepertiga dari
jumlah musuh. Kalau hanya mengandalkan kekuatan fisik saja pastilah pasukan
muslim yang kalah. Tetapi mereka adalah sekumpulan orang pilihan yang
menjadikan kekuatan spiritual dan emosional yaitu yakin terhadap pertolongan
Allah SWT sebagai kekuatan utama untuk berperang melawan pasukan Quraisy.
Bahkan Rasulullah dengan penuh harap dan cemas berdoa kepada sang Khaliq, “Ya Allah, jika di hari ini kami kalah maka tidaak
ada yang beribadah kepada-Mu di muka bumi”.
Begitu pula, Tariq bin Ziyad bersama 7000 pasukan muslim, beliau berhasil
menaklukan Andalusia di bulan ramadhan. Setelah berhasil menyeberang daratan
Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil langkah yang hingga kini membuat tercengang
ahli sejarah. Ia membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangkut
pasukannya. Dalam pidatonya yang penuh semangat beliau berkata, “Dimana jalan Pulang? Laut di belakang
kalian. Musuh di hadapan kalian…..” Selanjutnya ia berteriak kencang, “Perang untuk menang atau Mati syahid”.
Sungguh takjub menapaki sejarah
para pendahulu-pendahulu kita, kesemuanya tak akan terlaksana jika kita sebagai
muslim hanya mengandalkan kekuatan fisik saja dan tak mempunyai semangat kuat
yang tercermin dari kecerdasan emosional dan spriritual.
Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional
Intelligence menjelaskan bahwa kesuksesan seseorang dalam semua aspek
kehidupan tak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), tetapi
faktor dominan yang menentukan adalah kecerdasan emosional (EQ). Nah, bulan
ramadhan adalah momen yang tepat untuk melatih kecerdasan emosional dan
spiritual agar produktivitas kerja terjaga dan semakin meningkat. Semoga dengan
melatihnya, segala harapan dan hajat kita akan tercapai dengan baik sesuai
dengan kehendak-Nya.
Wallahu a’lam bis showab

Komentar
Posting Komentar