Lain Mesir Beda Turki
Membahas dunia
Islam memang tidak ada habisnya, karena banyak hal menarik yang bisa
diperbicangkan apalagi di kancah perpolitikan. Bagaimanapun Islam adalah agama
yang penganutnya terbesar di dunia jika penganut agama Kristen dan Katholik
dipisahkan. Dengan penganut sebanyak 1,4 milyar orang, wajarlah jika suara umat
islam sangat diperhitungkan dikancah perpolitikan dunia. Hal ini sejalan dengan
sabda Rasulullah SAW yang menyampaikan bahwa umat Islam itu ibarat priuk makan
yang besar yang menarik simpati bagi setiap orang yang datang.
Masih ingatkah
kita dengan kudeta militer di Mesir tahun 2013. Saat itu Presiden Mohamad Mursi
yang resmi dipilih oleh rakyat pertama kali secara demokratis digulingkan oleh
militer yang didalangi oleh Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Fattah Al Sisi.
Menanggapi kondisi saat itu berbagai kecaman dan dukungan terhadap kudeta
datang dari berbagai penjuru dunia. Pihak yang searus dengan pergerakan
Presiden Mursi menentang keras aksi yang dilakukan militer. Bahkan beberapa
minggu setelah peristiwa itu terjadi, penolakan keras terhadap kudeta masih
mengemuka di beberapa viral media sosial. Tetapi selang beberapa bulan, konstelasi
politik berubah drastis, pihak barat yang katanya sebagai penganjur demokrasi
malah mendukung kudeta militer dan memberikan kucuran dana besar kepada
pemerintah baru untuk memulihkan stabilitas politik dan ekonomi di negara
Mesir. Standar ganda yang kembali terulang.
Kudeta terhadap
negara muslim juga kembali terjadi di Turki tanggal 15 Juli 2016 kemarin.
Sungguh besar ujian yang Allah SWT berikan kepada umat Islam di berbagai
pelosok negeri. Beberapa pengamat menyampaikan bahwa kudeta ini adalah puncak
dari aksi penentangan terhadap pemerintah resmi setelah beberapa aksi
mengerikan berupa rentetan bom di berbagai kota Turki setahun terakhir. Selain
itu, ditambah isu mundurnya PM Ahmet Datuvoglu karena perbedaan cara pandang
politik dengan Presiden Erdogan. Berbagai kejadian sebelum kudeta yang
menyebabkan isu perpecahan di internal AKP dan instabilitas politik Turki
ternyata tidak membuat rakyat mengamini aksi kudeta militer tersebut.
Ada yang berpendapat
bahwa kegagalan kudeta dikarenakan militer terlalu sporadis dalam melakukan
aksinya tanpa perencanaan yang matang. Sitaresmi S Soekanto, Doktor Ilmu Politik
Universitas Indonesia yang mengambil Disertasi tentang Perpolitikan Turki
justru berkata lain. Beliau menyampaikan bahwa kudeta militer sebenarnya sudah
direncanakan secara matang, Hal ini dibuktikan dengan berbagai skenario yang
dilakukan saat kudeta, antara lain memutus akses masuk ke kota Istambul dengan
memblokade Jembatan Bosphorus, mengambil alih media nasional, menguasai aset
penting seperti Istana negara, dan kudeta dilakukan saat Presiden Turki sedang
tidak berada di negaranya. Kudeta terencana tersebut digagalkan sendiri oleh
rakyat Turki yang masih setia dan peduli dengan ajakan Presiden Erdogan untuk
menghentikan aksi kudeta. Presiden Erdogan beberapa saat setelah mendengar
adanya upaya kudeta, mengajak seluruh rakyat Turki via skype untuk menentang
aksi tersebut. Beberapa menit setelah ajakan tersebut, rakyat beramai-ramai
turun ke jalan. Kumandang takbir berkumandang di seantero masjid saat dini hari
itu. Beberapa jam kemudian kudeta berhasil dihentikan oleh aksi rakyat dibantu
polisi, walaupun beberapa ratus nyawa harus melayang akibat perlawanan mereka
terhadap militer.
Ustadz Bachtiar
Nasir salah satu da’i nasional dan Sekretaris Jenderal MIUMI pernah
menyampaikan bahwa salah satu kelemahan politik Islam di Indonesia adalah kita
kurang memahami realita politik yang terjadi. Berkaca dari pernyataan tersebut,
bisa jadi kekalahan partai politik Islam di Indonesia khususnya dan negara
Islam pada umumnya disebabkan hal tersebut. Inilah realita yang kita hadapi
hidup di era demokrasi yang suka atau tidak suka harus dijalani. Kita boleh
menghujat pemerintah Kudeta As Sisi dan mungkin sampai sekarang kita tidak
mengakui pemerintah sahnya. Tapi itulah realita politik yang terjadi di
internal Mesir dan negara Internasional lainnya. Pantaslah para politikus itu
licin dan pandai terkelit karena dinamikanya sangat cepat dan tidak bisa
diprediksi. Dr. Sitaresmi S Soekanto kembali menyampaikan bahwa berhasilnya kudeta
Mesir juga disebabkan kondisi rakyat Mesir sendiri. Menurut Beliau, kondisi
masyarakat Mesir sebagian besar adalah masyarakat menengah ke bawah yang tidak
melek pendidikan bahkan ada yang masih buta huruf. Konstitusi di negara
tersebut juga masih memberikan celah bagi militer untuk melakukan intervensi
apabila berbeda haluan dengan mereka. Disamping itu Presiden Mursi dengan
partainya juga masih kecil jam terbang politknya.
Lain Mesir
berbeda pula dengan Turki. Turki adalah negara dengan sejarah sangat gemilang.
Bangsa turki adalah bangsa yang sulit ditaklukkan bahkan oleh Islam sendiri, sampai
dengan Muhamad Al Fatih menaklukkan negeri tersebut dan menancapkan
kekuasaaannya dengan wilayah sepertiga dunia selama 6 abad. Era kejayaan Turki
memberikan memori dan sejarah yang indah bagi rakyatnya hingga saat ini.
Kondisi masyarakat Turki sebagian besar adalah masyarakat menengah ke atas dan
sangat paham pendidikan. Paham sekuler yang katanya telah merasuk ke jiwa
rakyat ternyata hanya dianut segelintir kalangan kelas atas dan sebagian
militer. Masyarakat Turki sesungguhnya adalah masyarakat yang taat agama dan
paham betul kondisi politik ekonomi negaranya saat ini.
Jadi pantaslah kalau kudeta tanggal 15 Juli kemarin digagalkan sendiri oleh rakyatnya tanpa mengesampingkan kontribusi Presiden Erdogan selama memimpin Turki selama hampir 10 tahun lebih. Ketokohan Erdogan yang sangat kuat mampu memberikan kebanggaan tersendiri bagi rakyat Turki. Kontribusi Beliau selama memerintah telah dirasakan nyata oleh masyarakat Turki dalam kehidupan ekonomi mereka. Posisi Ekonomi Turki di Eropa bahkan di dunia internasional juga semakin di segani dengan masuknya Turki dalam komunitas ekonomi G-20. Keberpihakan Presiden Erdogan terhadap bangsanya dan umat Islam di penjuru dunia membuat rakyatnya bahkan umat Islam lainnya merindukan sosok kepemimpinan seperti Beliau. Presiden Erdogan berani mengeluarkan kebijakan dengan tegas untuk menampung jutaan pengungsi Suriah disaat Eropa beramai-ramai memulangkan pengungsi ke negara asalnya. Kepedulian Beliau terhadap rakyat Gaza, menyisihkan egonya untuk melakukan perundingan dengan Israel demi dibukanya kembali blokade. Presiden Erdogan juga rela meminta maaf kepada Presiden Rusia setelah insiden penembakan jatuh Jet Tempur milik Rusia untuk menormalisasi hubungan. Kepemimpinan yang kuat dan kondisi masyarakat yang ideal adalah jalan memuluskan agenda Turki Baru 2023 sebagaimana yang dicita-citakan Presiden Erdogan bersama rakyatnya.
Kepemimpinan dan
kondisi masyarakat Turki harusnya menjadi tolak ukur bagi negara Islam lainnya
jika ingin menjadi bangsa yang maju dan beradab. Pemimpin Islam yang kuat tidak
akan ada artinya jika tidak didukung oleh masyarakat Islam itu sendiri. Belajar
dari kondisi negara Islam di berbagai negeri, peradaban Islam baru akan
terwujud jika masyarakat sadar dan peduli dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Pekerjaan rumah kita sesungguhnya menanamkan kecintaan umat Islam terhadap
ajarannya sendiri dan berusaha mengamalkannya. Umat Islam harus mulai membangun
perabadaban dari unit terkecil yaitu individu muslim kemudian dilanjutkan dalam
lingkup keluarga dan seterusnya. Apabila pondasi masyarakat sudah kuat, cepat
atau lambat negara Islami yang didambakan masyarakat pasti akan terwujud.
Pemimpin kafir dengan segala track record bagusnya pasti akan tersingkir karena
masyarakat paham akan ajarannya. Sebaliknya tidak perlu berteriak untuk
tegaknya khilafah jika masyarakatnya sendiri belum siap untuk menjalankannya.

Assalamualaikum warahmatullahi wb.
BalasHapusAna mau nanya, untuk kuliah lebih baik Turki atau Mesir?
Menurut antum yang mana, dan apa alasannya?