Membiasakan Hal Baik



Pendidikan keluarga adalah salah satu faktor pembentuk karakter anak setelah dewasa nanti. Banyak hal baik yang terlestarikan dan ada pula hal buruk yang terbiasakan bergantung pola didik masing-masing. Berkaca dari Islam, semua yang menurut kita baik belum tentu sejalan dengan syariat-Nya. Bersyukurlah kita yang mendapat pendidikan orangtua sesuai tuntunan Rasulullah SAW entah mereka menyengaja atau hanya ikut tradisi nenek moyang sebelumnya. Kadang baru tersadar setelah dewasa saat hidayah ilmu agama menhampiri kita.

Berfikir sejenak, ternyata banyak hal yang telah diwariskan orangtua kita sehingga karaktek dan kebiasaan hidup kita terbentuk seperti ini. Hal yang baik selayaknya kita lanjutkan dan hal buruk secepatnya kita luruskan karena kelak akan menjadi bekal pengasuhan untuk anak cucu kita.

Ada beberapa kebiasaan yang menurut kita biasa dan sah-sah saja saja dilakukan ternyata tak sejalan dengan adab Islam. Ini layak menjadi perhatian karena sayapun sering membiasakannya.
Pertama, tidak membelakangi orang lain dan tidak mengangkat kaki di atas kakinya saat duduk. Selain itu, dilarang menaruh telapak tangan di dagunya dan tidak menyandarkan kepalanya di lengannya. Adakah kita sering melakukan, kalau ya mari kita luruskan. 

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Ihya’ Ulumuddin pernah menyampaikan nasehat yang sangat berharga, Beliau berkata “Seyogyanya anak dibiasakan untuk tidak meludah didalam majelis. Tidak mengeluarkan ingus dan tidak menguap di hadapan orang lain. Tidak membelakangi orang lain dan tidak mengangkat kaki di atas kakinya. Tidak menaruh telapak tangan di dagunya, dan tidak menyandarkan kepalanya di lengannya. Kesemuanya itu menunjukkan kemalasan. Anak hendaknya diajarkan etika duduk dan dilarang dari banyak berbicara. Jelaskan bahwa semua itu menunjukkan orang yang tidak punya malu dan merupakan orang tidak benar. Laranglah anak dari banyak bersumpah, baik serius atau dusta agar berbiasa sejak kecil.”

Kedua, menjadikan orang tua sebagai bahan celaan. Masih ingat zaman SD/SMP kita memanggil teman kita dengan nama Bapak atau Ibunya. Kita merasa asyik dan puas jika tahu nama Bapak teman-teman kita, tujuannya bukan sebagai penghormatan tapi semata untuk menjadi bahan candaan atau lebih parahnya bahan celaan. Bahkan sampai saat ini kebiasaan itu masih ada dan seolah sudah membudaya di kalangan anak-anak. Lebih parahnya media juga turut menimpalinya. Beberapa kontes komedi (stand up comedy) menjadi orang tuanya sebagai materi. Mereka bercerita kehidupan orang tuanya untuk membuat penonton tertawa bersama. Astagfirullah, kita bertanya niatnya apa, kalau untuk menghormatinya bukan seperti itu caranya.
Banyak riwayat dalil dan riwayat berkisah bagaimana kita diharuskan menghormati dan menjaga martabat orangtua kita. “Sesungguhnya termasuk dosa paling besar yaitu seseorang yang mencela kedua orang tuanya, Rasulullah ditanya,”Bagaimana seseorang mencela kedua orang tuanya?” Beliau bersabda, “Dia mencela ayah orang lain, kemudian orang lain tersebut mencela ayah dan ibunya.” (Shahih Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani)

Imam An Nawawi menulis hadist tersebut dalam kitabnya Al Adzkar dan menjelaskan hadist Nabi “Jangan membuat orang tuamu dicaci.” Imam Nawawi berkata, “Jangan melakukan tindakan yang membuat dia mencaci ayahmu karena marah kepadamu atau sebagai pelajaran atas tindakanmu yang jelek. Anak yang baik selalu membahagiakan orangtuanya, memberikan kesenangan dalam hati mereka sehingga mereka menikmati kehidupan ini. Dan anak adalah penyejuk hati bagi keluarganya. Dia berbakti kepada orangtua nya dan ia akan memperoleh pahala yang agung karena bakti dan kebaikannya kepada orangtua.”

Semakin kita belajar, kita semakin tahu mana yang sebenarnya baik yang harus kita budayakan dan mana hal buruk yang harus segera kita tinggalkan. Sekelumit pengetahuan tadi semoga menjadi pembelajaran kita bersama karena masih banyak hakikat kebaikan dalam Islam yang belum kita ketahui. Semoga apa yang sudah kita ketahui segera kita dapat amalkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menangislah Karena Ramadhan Akan Segera Pergi

Pemimpin Kafir Tapi Adil ???

Islamisasi Sains