Nativisasi : Politik Budaya Kolonial
![]() |
| (www.javaloka/masjid demak) |
Nativisasi apa ya?
Saya juga awalnya asing dengan istilah tersebut, tapi setelah
mempelajari lebih dalam, ternyata ini masalah serius yang menimpa umat Islam
khususnya di Indonesia. Menurut Beggy Rizkiyansah, Pegiat Sejarah Islam
Indonesia sekaligus redaktur situs jejakislam.net,
Nativisasi adalah sikap atau paham suatu masyarakat atau negara terhadap
budayanya sendiri untuk menangkal pengaruh dan gagasan dari luar.
Di masa kolonial, nativisasi digunakan sebagai politik budaya kaum
penjajah untuk membendung pengaruh/gagasan dari luar, terutama pengaruh Islam.
Mengapa Islam? Karena Islam tegas menolak praktek kolonialisasi dan tidak
pernah mau berkompromi dengan penjajah. Tujuannya mereka sangat jelas yaitu
untuk meneguhkan eksistensi penjajahannya di negara kita.
Nativisasi dilakukan diberbagai daerah di Indonesia antara lain di
tanah Batak, Sunda, Jawa, Minahasa, dan Bali. Prosesnya pun beragam bergantung
kondisi sosial masyarakat daerah masing-masing. Sebagai contoh ditanah Jawa dan
Sunda, Kaum kolonial melakukan nativisasi melalui proses budaya. Masyarakat pulau
Jawa yang saat itu identik dengan masyarakat Islam dipaksa untuk mengenang kembali
kejayaan masa lalu yaitu dimasa kerajaan Hindu dan Budha. Dihembuskan lah bahwa
berbagai macam tradisi Jawa seperti membuat patung, sesajen, candi adalah
warisan kerajaan Hindu Budha.
Padahal di masa itu, masyarakat jawa tidak mendapat kontribusi
yang signikan dari Kerajaan Hindu Budha. Candi besar yang dibanggakan,
sebenarnya sudah dilupakan masyarakat jawa dan terkubur lama selama beberapa
abad. Situs tersebut digali dan ditemukan oleh kaum kolonial dan direstorasi
kembali sebagai peninggalan sejarah. Masyarakat kasta rendah dipaksa untuk
membangun candi-candi besar sebagai tempat tinggal para raja dan bangsawan.
Setelah bangunan berdiri, hanya para raja dan bangsawan yang menempatinya.
Benarlah apa yang disampaikan Buya Hamka, “Agama Islam
meninggalkan peradaban di Indonesia. Masjid-masjid yang dibangun menjadi pusat
perabadan sebagai masyarakat hingga saat ini. Sedangkan candi-candi yang dibangun
umat Hindu hanya ditempati oleh para raja.” Islam memang tidak meninggalkan
bangunan megah tapi Islam mewariskan kultur masyarakat dan tradisi ilmu yang
bisa kita rasakan hingga saat ini.
Menjadi bingung, jika ada yang berkata bahwa pribadi yang menerapkan
ajaran Islam seperti memakai jilbab, memanjangkan genjot, dan semua berbau
islam dianggap tidak ‘Indonesia’. Dan jangan kaget, kalau ada yang berbau Islam
selalu disangkutpautkan dengan tradisi Arab. Jangan pula aneh, jika ada kepala
daerah yang membangun patung dimana mana dan berkata kalau ini sebenarnya
melestarikan budaya leluhur.
Kini, saatnya kita membuka kembali dan memahami sejarah bangsa
kita dengan benar. Jangan sampai apa yang kita lakukan justru mewarisi praktek
kaum kolonial.

Komentar
Posting Komentar