Petualang Muslim
Mendaki puncak gunung, berangkat dini hari, menembus dinginnya malam. Sampai di puncak, kita berteriak kencang pertanda suka cita, kibarkan bendera, dan berfoto ria. Setelahnya, kita bisa mendirikan tenda untuk bermalam beberapa hari. Di pagi harinya, seduhan minuman hangat bersanding panorama merah di senja pagi, duhai nikmatinya. Beberapa orang berdendang bersama dengan iringan gitar.
Atau mungkin, kita bersepeda dari
pagi hingga siang melewati medan terjal dan belum kita kenal. Sebagian lagi
melakukan perjalanan panjang berhari-hari dengan bekal seadanya. Dengan nyali
dan pengalaman, mereka melintasi berbagai wilayah. Orang biasa menyebutnya
dengan backpacker.
Dengan semuanya, apakah kita layak
disebut petualang (traveller) sejati.
Bagi kita yang mengaku petualang, sejauh apa visi perjalanan anda?
Dialah Ibnu Battutah. Petualang
sejati dari tanah Maroko. Selama 30 tahun melakukan travelling, dia telah melakukan penjelajahan sejauh 73.000 mil.
Ibnu Battutah juga melakukan berbagai penemuan penting sehingga tergores abadi
dalam tinta sejarah. Yang lebih mencengangkan, Ibnu Battutah ternyata seorang qadi. Kalau sekarang disebut hakim,
seorang yang dijadikan rujukan dan dimintai fatwa untuk menyelesaikan berbagai
persoalan kemasyarakatan. Seorang qadi pastilah merangkap sebagai ulama.
Kita akan tercengang melihat
ketinggian visi Ibnu Battutah sebagai seorang petualang. Melakukan perjalanan
baginya tak sekedar pergi mengetahui dan menikmati tempat baru. Perjalanan jauh
pastilah banyak rintangan. Baginya setiap permasalahan dan pertanyaan yang
muncul di berbagai tempat harus mendapatkan penyelesaian yang jelas.
Ada lagi petualang Muslim lainnya,
dia adalah Peri Reis. Dia adalah seorang admiral dan penjelajah Turki di masa
kekhalifahan Turki Utsmani. Peri Reis berjasa dalam pembuatan peta dunia
termasuk di dalamnya Peta Amerika. Sebelum Columbus mengklaim menemukan benua
Amerika, ternyata seorang petualang Muslim telah mendahuluinya. Ada juga
Laksamana Cheng Ho, nama ini sudah akrab di telinga kita. Dia adalah seorang
penjelajah Muslim Tiongkok. Menurut Ahli Sejarah Usman Effendy , Laksamana
Cheng Ho berlayar ke Indonesia sebagai niagawan dan mubaligh.
Para petualang muslim juga punya
andil besar dalam penyebaran Islam di Indonesia. Ada ungkapan bahwa dakwah
Islam nusantara dibawa oleh pedagang Gujarat. Apakah benar, tak sepenuhnya
benar. Karena seorang pedagang tulen tak akan bisa mewarnai kehidupan suatu
masyarakat. Yang benar adalah Islam dibawa oleh para ulama gurajat yang juga
berprofesi sebagai pedagang.
Lihat ketinggian visi para traveller Muslim generasi terdahulu,
begitu mulianya. Begitulah Islam, Allah ingin dikenal dengan kita mempelajari
ilmu alam semesta (QS Ali Imran :190-191). Salah satunya caranya dengan menjadi
petualang.

Komentar
Posting Komentar