Sang Tuan Rumah
Sekuel ‘Si Doel Anak Sekolahan’
kembali tayang di salah satu stasiun TV. Daripada menayangkan acara yang tak jelas
kontennya, tayangan ini adalah salah satu alternatif baik di pagi hari.
Rutinitas pagi kami sembari sarapan sungguh sangatlah sepele. Kalau tak
menonton ‘Mama Dedeh’, ya nonton ‘Upin Ipin’ dilanjut ‘Pada Zaman Dahulu Kala’.
Bagi Kami, ini adalah penyemangat sekaligus penyegaran sebelum memulai
aktivitas. Alhamdulillah, kini ada altenatif lain yaitu ‘Si Doel Anak Sekolahan’.
Dulu saya tak terlalu suka dengan sekuel
SDAS, tapi setelah beberapa kali tayang, saya menemukan keunikan dan keasyikan tersendiri.
SDAS adalah cermin kehidupan masyarakat Betawi yang terlestarikan. Digambarkan,
mereka hidup di kampung dengan rumah dan tanah yang lapang. Masyarakat Betawi juga
sangat agamis dan berbudaya. Sifat dan karakter mereka juga menarik, jujur dan
apa adanya. Dialog antar mereka, sangat asyik dan lepas. SDAS juga memberikan
pesan bermakna untuk masyarakat khususnya masyarakat Betawi utamanya terkait
pendidikan.
Saat menikmati dialog antar pemain, tetiba
pikiran saya menerawang jauh. Saya melihat fenomena kehidupan masyarakat Betawi
sekarang. Apartemen, mall, gedung perkantoran berdiri dimana-dimana. Sedangkan
masyarakat hidup sesak dengan kondisi yang sangat minimalis. Disitu pasti ada ‘sang
tuan rumah’ tapi kini tak lagi menjadi tuan rumah. Sudah banyak saya mendengar
cerita kalau orang Betawi itu juragan kontrakan. Tapi, saya juga mendengar,
banyak masyarakat Betawi yang harus terusir dari tanahnya atau tetap bertahan
dengan mengkontrak rumah. Sungguh kejam dunia saat ini dengan segala sistemnya.
Kalau dibiarkan seperti ini, ‘sang
tuan rumah’ akan semakin terusir. Terusir dari tanah tumpah darah, tempat
membangun peradaban nenek moyang mereka. Masyarakat bawah dibiarkan hidup
sekehendaknya dan tak diberi ruang untuk menjadi seorang competitor. Pendidikan dan tempat tinggal mereka seadanya. Lulus
SMA saja sudah puas, kalaupun putus sekolah sudah menjadi hal biasa. Bekerja
dengan ijazah SMA, kalaupun tak ada bekerja seadanya, yang penting cukup buat
makan dan bayar kontrakan. ‘Sang Tuan Rumah’ semakin tak berdaya, tak ada semangat
untuk berkompetensi dan memiliki. Mereka dibuat pasrah dan menerima nasib diri.
Mereka kini dibawah bayang-bayang kaum pendatang.
Adalah Nenek Ijah (nama samaran) yang
merasakannya. Tiap pagi, nenek ini memungut sampah di tempat tinggal kami untuk
dijual kepada pengepul. Di Usianya yang renta, Nenek itu selayaknya bisa
menikmati masa tua. Suatu saat yang bertanya kepadanya, “Nenek tinggal dimana?”
Dia menjawab dengan logat Betawi aslinya, polos, tanpa beban, dan tanpa gurat
kesedihan. Di seusianya, dia masih harus mencari makan demi keperluan
sehari-hari. Dia juga bercerita bahwa dia tinggal dengan anak dan cucunya di
bedeng tanah kosong milik suatu perusahaan (PT). Sungguh tragis, saya
membayangkan bagaimana keadaan anak cucunya nanti, tentulah penuh ketidakpastian
dan kecil harapan.
Di kota ini, mereka hidup layaknya di
hutan rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Siapa yang punya modal dia akan
mendominasi. Pemerintah seperti tak hadir. Sepertinya salah, kalau hidup di
bantaran sungai dan mengganggu tata keindahan. Sepertinya ilegal, kalau rumah
menghalagi proyek jalan dan perumahan. Pemerintah macam apa ini, memberikan
solusi instan demi mengakomodir kepentingan kelompok tertentu.
Kalau pemerintah tetap tak berpihak
kepada ‘sang tuan rumah’, Saya sangsi masyarakat Betawi akan bangga menyanyikan
syair ini.
……
Anak Betawi ketinggalan zaman katenyee ...
Anak Betawi nggak berbudaye katenyee … Ahh …
Aduh sialan, nih Si Doel anak Betawi asli
Kerjaannye sembayang mengaji
Tapi jangan bikin die sakit hati
…..
Komentar
Posting Komentar