Bahagia Yang Bermakna
Kadang dari
kita, orang tua kita, saudara-saudara kita sering berujar bahwa mereka bersedih
melihat masa depan dan karir anak kita yang tidak mapan. Kita sering
membandingkan dengan kerabat ataupun tetangga kita terkait apa kita peroleh
terutama terkait masalah karier dan materi. Coba kita amati lebih dalam,
sesungguhnya menemukan orang yang sukses materi, pandai secara akademik di
negara kita sangatlah banyak. Kadang saya sendiri suka iri (dalam artian saya tidak bisa menjadi seperti
dia)melihat rekan saya yang masih muda mempunyai bisnis dan pekerjaan yang
mapan. Di lain hal mereka juga mempunyai pendidikan tinggi, bisa melanjutkan
pendidikan di universitas terkenal bahkan sampai mengambil studi di luar
negeri.
Tapi apa yang
kita lihat, ternyata tak semulus yang mereka alami. Fenomena di masyarakat
telah memberikan bukti nyata bahwa harta dan jabatan bukan menjadi jaminan kebahagian
dan kebaikan moral seseorang. Bisa kita lihat bagaimana seorang anak tidak lagi
menghormati ayah ibunya dari kampung, yang ingin melihat anaknya sukses di kota
besar. Bisa kita saksikan bagaimana anak menitipkan ibu bapaknya yang tua renta
di panti jompo karena takut waktu bisnisnya terganggu karena waktunya habis
untuk merawat orang tuanya. Bisa kita saksikan, bagaimana seorang anak SMA
membentak orang tuanya meminta dibelikan motor untuk sekolah padahal orang tua
hanyalah seorang buruh petani. Bisa kita saksikan, seorang anak berebut harta
warisan di saat ayahnya mengalami sakaratul maut. Memang aneh tak masuk logika.
Sungguh hati ini ingin menangis melihat fenomena yang terjadi saat ini. Cerita
ini bukan dongeng, tapi merupakan fakta yang terjadi di sekitar kita . Itulah akibat
bagaimana seseorang membangun kehidupan hanya berdasarkan jasad dan materi
saja, tanpa mempertimbangkan ruhiyah dan fikriyah.
Jadi mulai
sekarang, janganlah kita ataupun orangtua kita mengeluh terkait kemampuan anak
kita. Didiklah anak kita dengan binaan agama dan hati agar mereka menghargai
hidup tak hanya sebatas kesenangan dunia saja . Jangan biarkan anak kita
diperbudak oleh materi . Ada sisi-sisi lain yang lebih bermakna yang harus diperjuangkan
dalam hidup ini. Walaupun anak kita tidak bisa sekolah di universitas terkenal
ataupun di luar negeri tetaplah bangga kepadanya karena itu merupakan hasil
jerih payahnya. Walaupun pekerjaan anak kita hanya pas-pasan, tetaplah
bersyukur karena itu adalah harta halal dan berkah yang diperoleh dari
keringatnya.
Karena anak-anak
seperti itu yang akan setia berkunjung dan merawat kedua orangtuanya di saat
tua renta.
Karena anak-anak
seperti itulah yang dapat memberikan kebahagiaan sederhana untuk kedua orang
tua dan kerabatnya.
Karena anak-anak
seperti itulah yang akan menangis mendoakan kedua orang tuanya di setiap shalat
malamnya.
Karena anak-anak
seperti itulah yang akan mendoakan orangtuanya dan menjadi amal jariyah setelah
akhir hayatnya.
Sudah selayaknya
seorang anak hendaknya merendahkan dirinya dihadapan orang tua, sekalipun ia
orang terpandang atau orang yang memiliki kedudukan. Allah Ta’ala berfirman
(yang artinya) : “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan
dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka
berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra : 24)
Komentar
Posting Komentar